Jakarta, Radio Bharata Online - Li An, Konselor Menteri bidang ekonomi dan komersial Kedutaan Besar Tiongkok untuk ASEAN, pada konferensi pers hari Jum'at (19/5) lalu di Jakarta mengatakan menghadapi lingkungan internasional yang kompleks serta tugas berat untuk memajukan reformasi dan pembangunan, Tiongkok telah melakukan upaya besar untuk mempromosikan pembangunan berkualitas tinggi di bawah kepemimpinan kuat Komite Pusat CPC dengan Xi Jinping sebagai intinya.
Hasilnya, perekonomian Tiongkok pada kuartal pertama (Q1) tahun 2023 mengalami enam pencapaian positif. Pertama, perkembangan ekonomi Tiongkok dimulai dengan awal yang baik. PDB Tiongkok tumbuh sebesar 4,6 persen pada Q1 2023, 1,6 poin persentase lebih tinggi dari Q4 2022.
Kedua, kepercayaan pasar telah meningkat secara signifikan. Indeks Manajer Pembelian Manufaktur atau Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) dan Indeks Aktivitas Bisnis Non-Manufaktur terus berada di atas ambang batas.
Ketiga, konsumsi dan investasi meningkat pesat. Pada Q1 2023, total penjualan ritel barang konsumsi tumbuh sebesar 5,8 persen, penjualan ritel jasa sebesar 13,7 persen, investasi infrastruktur sebesar 8,8 persen, dan manufaktur sebesar 7 persen.
Keempat, lapangan kerja dan harga secara umum stabil. Pada Q1 2023, Indeks Harga Konsumen/Consumer Price Index (CPI) naik 1,3 persen, 2,97 juta pekerjaan perkotaan diciptakan, dan tingkat pengangguran perkotaan yang disurvei mencapai 5,3 persen pada bulan Maret 2023.
Kelima, landasan bagi perkembangan ekonomi riil semakin terkonsolidasi. Pada Q1 2023, nilai tambah perusahaan manufaktur di atas ukuran yang ditentukan tumbuh sebesar 2,9 persen dan sektor jasa sebesar 5,4% persen. Keenam, sejumlah organisasi internasional menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2023. IMF mengharapkan Tiongkok untuk berkontribusi sekitar sepertiga dari pertumbuhan global tahun ini.
Menurut Li An, enam pencapaian tersebut pada dasarnya tidak terlepas dari langkah-langkah dan kebijakan utama yang telah diadopsi pemerintah Tiongkok untuk pembangunan ekonomi dan sosial, yakni:
Pertama, Tiongkok telah memperluas dan mengoptimalkan penerapan beberapa kebijakan pajak preferensial untuk mendorong dan memperkuat entitas pasar. Kedua, Tiongkok telah memperkenalkan serangkaian kebijakan untuk menstabilkan skala perdagangan luar negerinya dan mengarahkan perusahaan untuk lebih mengeksplorasi pasar di negara berkembang dan kawasan seperti ASEAN.
Ketiga, Tiongkok telah memperkuat pedoman kebijakannya untuk mendukung manufaktur maju dan mengarahkan lebih banyak sumber daya untuk mengalir ke manufaktur maju. Keempat, Tiongkok terus meningkatkan keberlanjutan pertanian, menerapkan kebijakan untuk mendukung produksi biji-bijian, dan mempromosikan revitalisasi pedesaan secara komprehensif.
Kelima, Tiongkok telah mengembangkan kebijakan untuk menstabilkan lapangan kerja dan meningkatkan dukungan kebijakan dan keuangan untuk perusahaan yang menarik sejumlah besar lulusan perguruan tinggi.