Beijing, Radio Bharata Online - Li Kexin, Direktur Departemen Urusan Ekonomi Internasional Kementerian Luar Negeri Tiongkok, pada hari Selasa (10/10) mengatakan Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) telah menciptakan paradigma baru untuk kerja sama internasional, melampaui mentalitas permainan geopolitik yang sudah ketinggalan jaman.

Tiongkok merilis sebuah buku putih berjudul "Prakarsa Sabuk dan Jalan: Pilar Utama Komunitas Global Masa Depan Bersama" pada hari Selasa (10/10) untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada komunitas internasional mengenai kerangka kerja ini.

Berbicara di sebuah konferensi mengenai dokumen tersebut, Li mengatakan bahwa BRI adalah sebuah prakarsa kerja sama ekonomi internasional yang tetap berkomitmen pada keterbukaan, inklusivitas, dan kerja sama yang saling menguntungkan, serta menganjurkan konsultasi yang ekstensif, kontribusi bersama, dan manfaat bersama.

"Selama 10 tahun terakhir, kerja sama BRI telah membuahkan hasil yang bermanfaat, dan lingkaran pertemanannya terus berkembang. Telah terbukti bahwa Belt and Road, yang bukan merupakan kelompok eksklusif dan sempit, telah melampaui mentalitas permainan geopolitik yang sudah ketinggalan zaman, dan menciptakan model baru kerja sama internasional. Ini adalah 'sabuk pembangunan' dan 'jalan menuju kebahagiaan' yang benar-benar bermanfaat bagi rakyat di semua negara," jelasnya.

"Pada 26 September, pemerintah Tiongkok merilis buku putih berjudul 'Komunitas Global Masa Depan Bersama: Usulan dan Tindakan Tiongkok'. Sabuk dan Jalan adalah praktik besar dan sukses di mana Tiongkok dan komunitas internasional bekerja sama untuk membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia," tambah Li.

Tahun 2023 menandai ulang tahun ke-10 proposal BRI. Selama satu dekade terakhir, Tiongkok telah menandatangani dokumen kerja sama BRI dengan lebih dari 150 negara dan lebih dari 30 organisasi internasional.