Majelis Kesehatan Dunia (WHA) ke-76 baru-baru ini menolak untuk mencantumkan proposal sejumlah negara ke dalam agendanya dengan isinya apa yang disebut ‘mengundang Taiwan mengikuti majelis sebagai pengamat’. Sampai sekarang, intrik AS yang ‘mendukung Taiwan bergabung dalam WHA’ sudah 7 kali mengalami kegagalan. Hal ini membuktikan, Prinsip Satu Tiongkok adalah keinginan masyarakat. Sandiwara AS tersebut hanya mendapat ejekan di dunia internasional.
Proposal terkait Taiwan kali ini diajukan oleh beberapa negara termasuk Belize, sebenarnya sandiwara ini disutradarai oleh AS, dan berulang-kali dimainkan di depan WHA tiap tahun dengan modus proposal diajukan oleh apa yang disebut ‘negara berhubungan diplomatik’ dengan Taiwan, dan digembar-gemborkan oleh sejumlah negara Barat termasuk AS, akhirnya digagalkan dengan tak diragukan.
Pihak AS nyata sekali mengetahui hasil ini. Sebab paling penting ialah proposal tersebut melanggar peraturan internasional, khususnya Prinsip Satu Tiongkok yang dikonfirmasi oleh Sidang Majelis PBB dan Majelis Kesehatan Dunia. Menurut Resolusi No.2758 Sidang Majelis PBB dan Resolusi No.25.1 WHA, isu kehadiran kawasan Taiwan dalam kegiatan internasional termasuk WHA harus ditangani berdasarkan Prinsip Satu Tiongkok. Menjelang dibukanya WHA tahun ini, hampir 140 negara menyatakan pendiriannya kepada Tiongkok yaitu mendukung Prinsip Satu Tiongkok dan menentang kehadiran Taiwan dalam WHA, hampir seratus negara khusus mengirim surat kepada Direktur Jenderal WHO atau mengeluarkan pernyataan secara terbuka, tindakan itu sepenuhya menunjukkan hal ini.
Setahun demi setahun, sandiwara AS yang ‘mendukung Taiwan mengikuti WHA’ terus mengalami kegagalan, mengapa masih dimainkan terus menerus? Analisa menunjukkan, inilah trik dan tindakan yang sering dilakukan AS untuk melaksanakan intrik ‘membendung Tiongkok dengan Taiwan’, pihaknya berniat ‘menginternasionalisasi’ masalah Taiwan, dan membikin ‘Satu Tiongkok Satu Taiwan’ di arena internasional, dan menantang kesepahaman masyarakat internasional. Selain itu, inilah ‘bisnis’ yang sudah dipastikan. Tiap tahun kawasan Taiwan ‘menyumbang’ duit kepada politikus AS, wajarnya ingin ‘mendapat balasan’. Oleh karena itu, tiap tahun sampai saat ini, ‘mendukung Taiwan mengikuti WHA’ telah menjadi tugas rutin sejumlah orang AS, adapun bagaimana hasilnya, ini bukan hal penting. Bagaimanapun, bagi AS, Taiwan hanya sebuah catur saja
Tak peduli bagaimana permainannya, permainan AS tersebut pasti mengalami kegagalan. Bagi rakyat Taiwan sejumlah 23 juta orang, hanya mengandalkan tanah air yang kuat, baru mendapat peluang perkembangan yang besar, barulah berdiri tegak di arena internasional. Trik AS ini sudah pasti sia-sia belaka.
Pewarta : CRI