BEIJING, Radio Bharata Online - Presiden Tiongkok Xi Jinping pada hari Kamis menuntut penyelamatan total dan perawatan yang terluka, serta perbaikan keamanan, setelah ledakan restoran barbekyu di Daerah Otonomi Ningxia Hui di Tiongkok Barat Laut.
Pada hari Kamis, otoritas setempat mengkonfirmasi bahwa korban tewas akibat ledakan gas yang menghancurkan sebuah restoran barbekyu di Yinchuan, ibu kota Daerah Otonomi Ningxia Hui, Tiongkok Barat Laut pada Rabu malam, telah meningkat menjadi 31.
Tim penyelamat dan kelompok investigasi kecelakaan segera dibentuk, untuk memberikan perawatan medis penuh bagi para korban, dan untuk menangani kasus tersebut.
Otoritas keamanan publik telah mengamankan sembilan orang termasuk manajer, pemegang saham, dan staf kerja toko barbekyu yang terlibat dalam kecelakaan itu dan membekukan aset mereka.
Pemerintah setempat untuk sementara memindahkan penghuni bangunan di sekitar restoran barbekyu ke hotel terdekat.
Komisi Kesehatan Nasional dengan cepat mengirim tim penyelamat medis darurat nasional untuk melakukan perawatan bagi yang terluka, dan mengirimkan ahli luka bakar dan perawatan kritis tingkat nasional, untuk bergegas ke Yinchuan untuk membantu dan memberikan dukungan.
Ledakan mematikan di restoran barbekyu itu terjadi sekitar pukul 20.40 waktu setempat, karena kebocoran bahan bakar gas cair dari area operasi sebuah restoran barbekyu. Kebakaran akibat ledakan tersebut berhasil dipadamkan pada Rabu pukul 21.20.
Ledakan mengakibatkan 38 korban, 31 orang diantaranya dipastikan tewas, sementara tujuh orang, termasuk satu dalam kondisi kritis, saat ini menerima perawatan medis.
Walikota Yinchuan, Tao Shaohua pada konferensi pers pada Kamis malam, sambil membungkuk meminta maaf mengatakan, bahwa itu adalah kecelakaan keselamatan paling serius yang terjadi di Ningxia selama bertahun-tahun.
Hingga Kamis pagi, tujuh orang menerima perawatan dengan tanda-tanda vital yang stabil. Pemerintah daerah telah mengorganisir 20 dokter spesialis psikologi untuk melakukan konseling psikologis bagi korban dan keluarga korban. (Global Times)