Jakarta, Radio Bharata Online - Dalam rangka memperingati 20 tahun aksesi Tiongkok ke dalam Traktat Persahabatan dan Kerja Sama atau Treaty of Amity and Cooperation (TAC) di Asia Tenggara, Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Misi Tiongkok untuk ASEAN menyelenggarakan kegiatan bertajuk 'Jakarta Forum on ASEAN-China Relations' pada Kamis (22/6) di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) merupakan sebuah traktat yang bertujuan untuk menciptakan stabilitas politik dan keamanan di kawasan Asia Tenggara. TAC mengatur penyelesaian konflik diantara negara-negara pihak secara damai.
Acara ini dihadiri oleh Duta Besar Tiongkok untuk ASEAN Hou Yanqi, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn, Pendiri FPCI Dino Patti Djalal, mantan duta besar Tiongkok untuk AS Cui Tiankai, Asisten Menteri Urusan Luar Negeri Tiongkok, Nong Rong, dan sejumlah diplomat serta akademisi dari dalam maupun luar negeri. Selain memberikan sambutan, beberapa dari mereka juga turut menjadi pembicara dalam diskusi panel yang diagendakan.
Menurut Dino Patti Djalal, momentum ini tidak hanya sekadar menandai peringatan 20 tahun aksesi Tiongkok ke dalam TAC, tetapi juga sekaligus menekankan pentingnya kerja sama Tiongkok dengan ASEAN.
"Menurut saya, apa yang kami lakukan adalah mengingatkan diri kami sendiri tentang seberapa pentingnya mereka (Tiongkok), karena itu lebih dari sekadar lintas kota," ujarnya saat memberikan sambutan pada pembukaan acara tersebut.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia itu juga menambahkan bahwa Tiongkok merupakan negara pertama di luar ASEAN yang menandatangi TAC, tepatnya pada tahun 2003. Menurut situs Sekretariat ASEAN-Indonesia, selain Tiongkok, ada lebih dari 40 negara di luar ASEAN yang mengaksesi TAC. Tiga negara terakhir yang mengaksesinya adalah Kolombia, Kuba, dan Afrika Selatan, yang penanda tanganannya dilakukan di Hanoi, Vietnam pada 10 November 2020.