BEIJING, Radio Bharata Online - Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Senin(24/4) menyerukan kewaspadaan karena beberapa media telah berusaha untuk menggambarkan posisi Tiongkok dalam masalah Ukraina dan menabur perselisihan antara Tiongkok dan negara-negara yang bersangkutan.

Juru bicara Mao Ning membuat pernyataan tersebut pada jumpa pers harian ketika diminta untuk mengomentari pernyataan oleh Duta Besar Tiongkok untuk Prancis Lu Shaye.

Jumat lalu, Duta Besar Lu ikut serta dalam wawancara dari sebuah media Prancis. Tentang kepemilikan Crimea, dia mengatakan bahwa itu tergantung pada bagaimana masalah itu dirasakan, menambahkan Crimea secara historis adalah bagian dari Rusia dan telah ditawarkan ke Ukraina oleh mantan pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev.

"Posisi Tiongkok pada masalah yang relevan tetap tidak berubah," jawab Mao.

Mao menegaskan, "Mengenai masalah yang berkaitan dengan kedaulatan teritorial, posisi Tiongkok konsisten dan jelas,"

Mao Ning menekankan Tiongkok menghormati kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas teritorial semua negara serta menjunjung tinggi tujuan dan prinsip Piagam PBB.

Mao juga mengatakan setelah Uni Soviet bubar, Tiongkok adalah salah satu negara pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara terkait.

Ditambahkannya, sejak menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara tersebut, Tiongkok telah mengikuti prinsip saling menghormati dan kesetaraan dalam mengembangkan hubungan bilateral yang bersahabat dan kooperatif dengan mereka.

Mao memperjelas bahwa Tiongkok menghormati status bekas republik Soviet sebagai negara berdaulat setelah pembubaran Uni Soviet.

"Mengenai masalah Ukraina, posisi Tiongkok jelas dan konsisten. Kami akan terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memberikan kontribusi kami dalam memfasilitasi penyelesaian politik krisis Ukraina," kata Mao.

Sumber: CGTN