GUANGZHOU, Radio Bharata Online - Bank Indonesia menyosialisasikan penggunaan mata uang lokal untuk penyelesaian transaksi bilateral (Local Currency Settlement atau LCS) kepada para pengusaha Tiongkok.

Sosialisasi tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Pengembangan Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat kepada para peserta Forum Bisnis Indonesia-Tiongkok di Guangzhou, Senin (26/9/2022).

"LCS ini bisa membantu pemulihan ekonomi dan pengembangan pasar keuangan," katanya saat memberikan paparan secara virtual kepada sedikitnya 100 pengusaha Tiongkok yang hadir secara langsung di Guangzhou, dikutip dari Antara.

Melalui LCS yang telah disepakati bank sentral di kedua negara, lanjut dia, pengusaha Tiongkok bisa melakukan transaksi pembayaran dengan mitranya di Indonesia dengan menggunakan mata uang yuan atau rupiah.

Baca juga: Indonesia berharap implementasi LCS rupiah-yuan tingkatkan investasi

Dengan menggunakan mata uang lokal, yuan atau rupiah, maka para pengusaha di kedua negara tidak perlu lagi mengonversinya ke dalam mata uang dolar AS seperti sebelum LCS disepakati pada 2021.

"BI mengimplementasikan LCS ini sebagai upaya untuk mengakselerasi pengembangan pasar keuangan, mengurangi volatilitas nilai tukar rupiah, dan meningkatkan efisiensi pasar," katanya.

Donny menganggap pentingnya mendorong implementasi LCS di lingkungan pengusaha Tiongkok karena Tiongkok merupakan negara terbesar kedua yang melakukan investasi asing langsung di Indonesia.

Sekitar 20 persen total investasi asing langsung di Indonesia dikuasai oleh Tiongkok.

"LCS ini dapat pula meningkatkan hubungan dagang antara Indonesia dan Tiongkok," ujarnya menambahkan.

Transaksi LCS di Indonesia, jelas dia, menunjukkan tren positif sejak 2018.

Namun realisasi LCS dengan Tiongkok yang diimplementasikan sejak 6 September 2021 masih di bawah dua persen.

Sebelum dengan Tiongkok, Indonesia mengimplementasikan LCS dengan Jepang, Thailand, dan Malaysia.

Forum Bisnis di Guangzhou dihadiri sekitar 100 orang dengan menerapkan protokol kesehatan antipandemi COVID-19 secara ketat, seperti kewajiban peserta menunjukkan hasil negatif tes PCR.

Selain itu, ada sekitar 200 orang pengusaha Indonesia dan Tiongkok menghadiri forum tersebut secara virtual.

Forum bisnis tersebut digelar oleh Kedutaan Besar RI di Beijing bekerja sama dengan Konsulat Jenderal RI di Guanghzou dan Kantor Bank Indonesia Perwakilan Beijing.

Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun membuka acara tersebut secara luring, sedangkan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam sambutan pembukaan secara daring menyampaikan pentingnya berinvestasi di Indonesia.