BEIJING, Bharata Online - Administrasi Penerbangan Sipil Tiongkok pada Kamis mengumumkan, bahwa beberapa maskapai penerbangan negara ini telah kembali mengoperasikan beberapa penerbangan antara Tiongkok dan negara-negara di Timur Tengah.

Langkah ini dilakukan setelah perjalanan udara ke wilayah tersebut oleh beberapa maskapai internasional, terganggu parah menyusul serangan militer AS-Israel terhadap Iran, yang dimulai pada 28 Februari.

Pihak otoritas Tiongkok mengatakan, Air China berencana mengoperasikan satu penerbangan pulang pergi per hari, antara Bandara Internasional Ibu Kota Beijing dan Riyadh, Arab Saudi, pada tanggal 5, 6, dan 7 Maret. Maskapai ini juga akan menjalankan satu layanan pulang pergi harian, antara Bandara Internasional Ibu Kota Beijing, dan Dubai di Uni Emirat Arab pada tanggal 6, 7, dan 8 Maret.

Sementara itu, China Southern Airlines mengoperasikan satu penerbangan pulang pergi antara Guangzhou dan Riyadh pada tanggal 6 Maret, untuk membawa kembali penumpang dan awak pesawat yang sempat terlantar. 

Sebelumnya, pada tanggal 2 dan 4 Maret, Hainan Airlines telah menyelesaikan dua penerbangan pulang pergi antara Haikou dan Jeddah di Arab Saudi.

Penerbangan pertama Tiongkok yang kembali beroperasi ke Timur Tengah setelah pecahnya konflik di wilayah tersebut, adalah penerbangan Air China CA789 dari Beijing ke Riyadh.  Pesawat tersebut berangkat dari Bandara Internasional Ibu Kota Beijing, dan tiba di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada hari Kamis.

Setelah penutupan wilayah udara Teluk pada 1 Maret, Air China, China Eastern, dan China Southern juga memperkenalkan kebijakan pengembalian dana, dan pemesanan ulang tanpa biaya untuk tiket ke Dubai, Abu Dhabi, dan Riyadh, yang dibeli antara 24 Februari dan 15 Maret. (CGTN)