Qinghai, Radio Bharata Online - Pembiakan buatan telah memainkan peran penting dalam pertumbuhan pesat populasi "Huangyu", atau ikan mas telanjang (naked carp). Ini merupakan spesies ikan endemik di Danau Qinghai di barat laut Tiongkok, yang pernah berada di ambang kepunahan karena penangkapan ikan berlebihan dan kerusakan lingkungan.
Ikan ini tidak hanya penting bagi keberadaan spesies burung lokal, tetapi juga bagi keseimbangan ekologi danau dataran tinggi tersebut. Karena tingkat penetasan alami Huangyu cukup rendah, pembiakan buatan telah menjadi cara utama untuk mempertahankan spesies ini.
Selama musim kawin spesies ini, anggota staf dari Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Ikan Mas Telanjang di Danau Qinghai akan datang ke Sungai Quanji yang mengalir ke danau, dan menjaring ikan-ikan tersebut. Mereka akan memilih ikan-ikan yang kuat untuk dibuahi secara artifisial atau buatan dengan mencampurkan telur dan sperma. Pembuahan harus selesai dalam lima menit untuk memastikan keberhasilan, dan mereka memiliki alat rahasia untuk tahap tersebut.
"Ini adalah bulu burung kormoran. Tidak ada duri di atasnya dan sangat halus, sehingga tidak akan membahayakan telur yang telah dibuahi," kata Fu Shengyun, asisten insinyur di pusat penyelamatan, yang terletak di Xining, ibu kota Qinghai.
Zigot kemudian dikirim ke beberapa fasilitas penetasan di stasiun percobaan lokal untuk pembiakan buatan. Anggota staf di sana bekerja secara bergiliran sepanjang waktu. Mereka harus menjaga kecepatan aliran air dan suhu pada tingkat tertentu guna memastikan lingkungan yang tepat bagi zigot untuk tumbuh. Inilah yang telah mereka pelajari selama dua dekade terakhir.
"Kami telah mempelajari kondisi inkubasi dan pembiakan terbaik untuk meningkatkan budidaya. Sekarang tingkat penetasan kami mencapai lebih dari 85 persen, naik dari 65 persen pada tahun 2015," ungkap Zhou Weiguo, Kepala Stasiun Percobaan Pembiakan Buatan Sungai Shaliu.
Ketika ikan-ikan muda mulai menunjukkan detak jantung, mereka akan dipindahkan ke beberapa tong air, di mana mereka diberi makan kuning telur setiap dua jam sekali, yang dibuat menjadi bubuk, dan kemudian dilarutkan dalam air.
"Satu kuning telur seperti ini dapat memberi makan satu tong air bundar yang berisi sekitar 200.000 benih. Kami memberi mereka makan setiap dua jam sekali," kata Guo Ruochen, asisten insinyur di pusat penyelamatan tersebut.
Ketika ikan-ikan muda itu berusia satu bulan, mereka dipindahkan untuk tinggal di beberapa kolam agar tumbuh hingga berusia satu tahun sebelum dilepaskan ke Danau Qinghai.
Para pekerja sering bersiul saat memberi makan ikan. Mereka mengatakan bahwa bersiul dapat membantu menarik ikan-ikan untuk datang dan makan lebih banyak. Sudah dua dekade sejak pengembangbiakan buatan dimulai. Sekarang, proyek ini telah menghasilkan sekitar 20 juta ikan mas muda untuk dilepaskan ke Danau Qinghai.
"Pembiakan buatan ini telah menyumbangkan 23 persen dari jumlah ikan mas yang ada di Danau Qinghai. Namun, karena ikan ini merupakan spesies dataran tinggi yang rapuh dan merupakan spesies inti dalam ekosistem lokal yang menjadi rumah bagi ikan dan burung, ikan ini membutuhkan perlindungan lebih lanjut," jelas Qi Hongfang, Wakil Direktur pusat penyelamatan tersebut.
Lebih dari 400.000 benih ikan mas meninggalkan pusat penyelamatan pada dini hari setiap hari baru-baru ini, menuju Sungai Buha, Sungai Quanji, dan beberapa sungai lain yang bermuara ke Danau Qinghai. Dengan selesainya rencana pengembangbiakan dan pelepasan tahun ini, jumlah total benih ikan mas yang dilepaskan akan mencapai 217 juta ekor.
Pada tahun 2003, Tiongkok mulai melarang penangkapan ikan mas telanjang di Danau Qinghai untuk meningkatkan stok spesies langka tersebut. Pada akhir tahun 2022, cadangan sumber daya ikan mas telanjang di danau tersebut telah pulih menjadi 114.100 ton, 44 kali lipat dari jumlah yang ada pada periode perlindungan awal sekitar satu dekade yang lalu.