Beijing, Radio Bharata Online - Para diplomat asing telah mengawasi kebijakan-kebijakan Tiongkok selama mereka menghadiri acara politik paling penting di negara tersebut, yakni "Dua Sesi".

"Dua Sesi" adalah acara penting dalam kalender politik Tiongkok dan mengacu pada sesi tahunan Kongres Rakyat Nasional (KRN), badan legislatif nasional Tiongkok, dan Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC), badan penasihat politik tertinggi negara itu.

"Dua Sesi" tahun ini adalah sesi kedua Komite Nasional CPPCC ke-14, yang dibuka di Beijing pada hari Senin (4/3), dan sesi kedua KRN ke-14 yang dibuka pada hari Selasa (5/3).

"Saya tertarik dengan semua yang dipertaruhkan. Ini adalah peristiwa politik paling penting di Tiongkok. Apa yang sedang terjadi di Tiongkok sangat penting, tidak hanya untuk Tiongkok, tapi juga untuk seluruh dunia," kata Ismail Hakki Musa, Duta Besar Turki untuk Tiongkok.

Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, meninjau pekerjaan pemerintah pada tahun 2023 ketika ia menyampaikan laporan pada sesi kedua KRN ke-14 di Beijing pada hari Selasa (5/3). Para duta besar untuk Tiongkok mengatakan bahwa mereka melihat pencapaian pembangunan Tiongkok pada tahun lalu, dan menangkap sinyal-sinyal baru untuk pengembangan negara di masa depan ketika mendengar laporan tersebut.

"Sangat menggembirakan bahwa mereka masih mengharapkan pertumbuhan sekitar lima persen, yang pada dasarnya akan membantu dunia, dan sebagian besar negara berkembang. Fokus yang berkelanjutan pada pembangunan berkualitas tinggi, penggunaan teknologi, penggunaan (energi) bersih dan keberlanjutan, saya pikir hal tersebut sangat, sangat penting bagi kita semua sebagai negara berkembang," ujar Siyabonga C. Cwele, Duta Besar Afrika Selatan untuk Tiongkok.

"Seperti yang saya lihat dalam laporan ini, ada bagian yang membahas tentang energi hidrogen. Dan kami akan sangat tertarik untuk melakukan banyak kerja sama bilateral dalam energi hidrogen," kata Parakhat Durdyev, Duta Besar Turkmenistan untuk Tiongkok.

"Apa yang saya lihat semuanya berpusat pada manusia. Ini adalah laporan yang komprehensif. Saya pikir Tiongkok berada di jalur yang benar untuk mencapai perkembangan lebih lanjut, memodernisasi masyarakat. Negara-negara berkembang seperti Sri Lanka dapat belajar dari pengalaman, pengetahuan, dan keahlian Tiongkok dan bagaimana Tiongkok dapat mencapai (perkembangannya)," kata K. K. Yoganaadan, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Sri Lanka di Tiongkok.

Beberapa diplomat mengatakan bahwa dengan menghadiri "Sua Sesi," mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang acara penting tersebut dan Tiongkok, yang membantu mereka mencari peluang kerja sama baru dengan negara itu.

"Ini adalah keempat kalinya saya ke sini, jadi saya sudah pernah ke sini sebelumnya. Tentu saja, saya tidak pernah berhenti bersemangat untuk menjadi bagian dari sesi ini, karena ini adalah sesi yang paling inklusif yang menyatukan orang-orang dari semua lapisan masyarakat, dengan latar belakang yang berbeda. Mereka berkumpul untuk membahas hal-hal yang sangat penting, berdasarkan proposal yang dibuat oleh masyarakat melalui struktur akar rumput. Jadi, ini adalah proses yang paling inklusif yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan pandangan mereka, dan pandangan ini diubah menjadi semacam kerangka kerja kebijakan multidisiplin yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk membuat kebijakan dan program yang berdampak pada kehidupan masyarakat," jelas James Kimonyo, Duta Besar Rwanda untuk Tiongkok.

"Kami benar-benar fokus pada kerja sama ekonomi antara Tiongkok dan Afrika. Itulah mengapa hari ini kami berada di sini juga untuk melihat bagaimana kami dapat memupuk kemitraan ini dan bagaimana kami dapat melakukan yang lebih baik," kata Ibrahima Sory Sylla, Duta Besar Senegal untuk Tiongkok.