Tiongkok, Radio Bharata Online - Seorang pakar Tiongkok untuk urusan Timur Tengah mengatakan pada hari Senin (19/2) bahwa Israel kemungkinan tidak akan melakukan serangan darat di Kota Rafah di Jalur Gaza selatan setelah dimulainya bulan suci Ramadhan pada 10 Maret tahun ini.
Menteri Kabinet Masa Perang Israel, Benny Gantz, memperingatkan pada hari Jum'at (16/2) lalu bahwa pertempuran di daerah kantong Palestina di Jalur Gaza akan terus berlanjut selama bulan Ramadhan, jika para sandera Israel tidak dibebaskan. Dia mengatakan dalam sebuah pernyataan video bahwa pertempuran akan diperluas ke Rafah kecuali jika para sandera dikembalikan.
"Kami tahu bahwa kecil kemungkinan bagi Israel untuk melancarkan operasi darat di Rafah setelah tanggal 10 Maret, awal Ramadan, karena jelas bagi semua orang bahwa operasi militer di Rafah tidak akan memungkinkan Israel untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, di satu sisi, untuk melenyapkan (kelompok bersenjata Palestina) Hamas, dan di sisi lain, membebaskan semua sandera Israel yang ditahan. Namun, (bagi Israel), memperpanjang pertempurannya di Rafah akan beresiko pada ketidaksetujuan semua orang. Lebih dari 1,3 juta warga Palestina yang mencari perlindungan di Rafah sebenarnya tidak memiliki tempat untuk pergi dan tempat untuk melarikan diri, dan Israel tidak akan mengizinkan mereka untuk kembali ke bagian utara Jalur Gaza. Jadi, dalam situasi seperti ini, jika aksi darat berlangsung hingga 10 Maret, tekanan dari masyarakat internasional akan semakin meningkat. Dan setelah Ramadan dimulai pada 10 Maret, reaksi (terhadap aksi darat di Rafah) dari dunia Islam akan semakin kuat," papar Li Shaoxian, Direktur China-Arab Research Institute di Universitas Ningxia, dalam sebuah wawancara dengan China Central Television (CCTV).
Li mengatakan bahwa Israel telah berada di bawah tekanan yang semakin meningkat dari komunitas internasional dan meningkatnya seruan untuk gencatan senjata di Jalur Gaza karena konflik mematikan dengan Hamas telah berlangsung selama lebih dari empat bulan dan merenggut nyawa puluhan ribu warga Palestina di Gaza.
"Amerika Serikat dan Eropa jelas menentang gagasan operasi darat Israel di Rafah. Selain itu, Mesir juga telah memberikan respon yang kuat. Dari situasi saat ini, pilihan yang lebih disukai oleh semua pihak yang terlibat adalah pertukaran sandera. Sejak 13 Februari, Mesir menjadi tuan rumah perundingan selama tiga hari mengenai gencatan senjata dan pertukaran individu yang ditahan. Meskipun negosiasi tidak membuahkan hasil dan menemui jalan buntu, Amerika Serikat, menurut saya, masih memprioritaskan untuk mendorong negosiasi dan mencapai kesepakatan," jelas Li.
Jumlah korban tewas Palestina akibat serangan Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 29.092, dengan 69.028 orang terluka sejak konflik Israel-Hamas meletus pada 7 Oktober tahun lalu, demikian laporan Kementerian Kesehatan yang berbasis di Gaza pada hari Senin (19/2).
Kementerian tersebut menambahkan bahwa tentara Israel menewaskan 107 orang Palestina dan melukai 145 lainnya dalam 24 jam terakhir.
Israel telah melancarkan serangan berskala besar terhadap Hamas di Jalur Gaza untuk membalas serangan Hamas di perbatasan Israel selatan pada 7 Oktober 2023, dengan sekitar 1.400 orang terbunuh dan lebih dari 200 orang disandera.