BEIJING, Radio Bharata Online - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan, pemerintah Tiongkok berharap negara besar dapat memainkan peran yang objektif untuk mengakhiri pertempuran sesegera mungkin, mengendalikan situasi serta mencegah meluasnya krisis.

Dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (09/10) Mao Ning menyebut, konflik Palestina-Israel telah berlangsung selama lebih dari setahun, menyebabkan kematian lebih dari 40.000 orang di Gaza, yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak.

Untuk mengakhiri konflik tersebut, Mao Ning mengatakan, dibutuhkan kemauan politik dan upaya diplomatik, bukan senjata, amunisi, dan sanksi sepihak.

Diungkapkan oleh Mao Ning, "Tiongkok sangat prihatin atas kekacauan di Timur Tengah. Kami menentang tindakan yang memicu permusuhan dan memperluas konflik, dan menyerukan kepada semua pihak untuk menangani situasi saat ini dengan sikap tenang, rasional, dan bertanggung jawab demi kepentingan perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut," 

Komunitas internasional, terutama negara-negara besar yang berpengaruh, ungkap Mao Ning, perlu memainkan peran yang konstruktif dan menghindari kekacauan lebih lanjut.

Badan Pertahanan Sipil Palestina menyebut militer Israel mengancam penggusuran terhadap lebih dari 200.000 penduduk di wilayah dan lingkungan Gaza Utara dan melakukan pembantaian untuk memaksa warga sipil melarikan diri.

Tentara Israel pada Minggu (6/10) mengumumkan dimulainya operasi militer di Jabalia yang diklaim untuk mencegah Hamas mendapatkan kembali kekuatan di wilayah tersebut, menyusul serangan sengit selama berjam-jam di wilayah timur dan barat Gaza utara dalam pertempuran paling sengit sejak Mei.

Kemudian pada Selasa (8/10), tentara Israel memperingatkan warga Palestina untuk mengungsi dari rumah dan kamp mereka di kota Jabalia dan menuju ke selatan melalui “koridor yang aman.”

Sementara Kementerian Dalam Negeri Gaza memperingatkan warga untuk tidak mematuhinya karena hal tersebut adalah penipuan dan kebohongan.

Dari Gaza, militer Israel juga meluaskan serangan ke wilayah Lebanon sejak 23 September 2024 dengan menargetkan kelompok Hizbullah. Serangan Israel itu telah menewaskan 1.251 orang, melukai 3.618 orang lainnya, dan juga menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi.

Meski ada peringatan internasional bahwa kawasan Timur Tengah berada di ambang perang regional akibat serangan tanpa henti Israel ke Gaza dan Lebanon, Tel Aviv memperluas konflik dengan meluncurkan invasi darat ke Lebanon selatan pada 1 Oktober 2024.