Shenzhen, Bharata Online - Pelabuhan Huanggang di kota Shenzhen, Tiongkok selatan, secara resmi menghentikan pengangkutan kargo lintas batas pada hari Minggu (21/12) setelah hampir 36 tahun beroperasi.
Penutupan tersebut berlaku efektif pada pukul 00:00 hari Minggu (21/12), menandai berakhirnya perannya sebagai gerbang utama antara daratan Tiongkok dan Daerah Administratif Khusus Hong Kong (HKSAR).
Menurut Bea Cukai Huanggang, dalam 11 bulan pertama tahun ini, lebih dari 2 triliun yuan (sekitar 4.766 triliun rupiah) kargo dan lebih dari 1 juta truk telah melewati pelabuhan tersebut, yang merupakan pos pemeriksaan kargo jalan raya 24 jam pertama di Tiongkok.
"Sejak Hong Kong kembali ke tanah air pada tahun 1997, Pelabuhan Huanggang telah menjadi jalur utama perdagangan kargo dengan Hong Kong. Volume kargo yang melewati Pelabuhan Huanggang terus meningkat. Pada tahun 2004, lebih dari 10 juta kendaraan masuk dan keluar telah melewati pelabuhan tersebut. Selama bertahun-tahun, volume kargo yang ditanganinya menempati peringkat pertama di antara semua pelabuhan darat di negara ini," ujar Yi Chao, Wakil Kepala Seksi Inspeksi Kargo di Bea Cukai Huanggang.
Dengan berakhirnya operasi kargo di Pelabuhan Huanggang, pelabuhan Shenzhen Bay, Liantang, dan Wenjindu akan mengambil alih perannya, membentuk pola logistik lintas batas baru antara daratan Tiongkok dan HKSAR.
"Untuk memastikan kelancaran pendistribusian kembali operasi pengiriman barang dari Pelabuhan Huanggang, kami telah menambah tenaga kerja dan fasilitas serta mengoptimalkan jalur lalu lintas di pelabuhan Shenzhen Bay dan Liantang untuk meningkatkan kapasitas bea cukai. Sementara itu, kami telah merilis panduan bea cukai dan video instruksi rute kepada perusahaan transportasi terlebih dahulu, agar para pengemudi terbiasa dengan rute ke pelabuhan tujuan untuk memastikan transisi bisnis pengiriman barang yang tertib dan stabil dari Pelabuhan Huanggang," jelas Zhang Songfeng, Wakil Kepala Seksi Pengawasan Pelabuhan di Bea Cukai Shenzhen.