ASTANA, Radio Bharata Online - Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menekankan, prinsip satu Tiongkok adalah jangkar yang kokoh untuk perdamaian di Selat Taiwan.  Wang, menyampaikan hal itu dalam sambutannya di sela-sela pertemuan Dewan Menteri Luar Negeri SCO di Astana, ibu kota Kazakhstan, pada hari Senin(20/5) kemarin.

Wang menambahkan, apapun perubahan yang terjadi di pulau Taiwan, hal itu tidak akan mengubah fakta sejarah dan hukum bahwa Taiwan adalah bagian dari China, atau tren sejarah bahwa Tiongkok pasti akan bersatu kembali, 

Baru-baru ini, dikatakan oleh Wang, para pemimpin politik masyarakat di banyak negara, termasuk negara-negara anggota SCO, telah menyuarakan dukungan mereka untuk tujuan adil Tiongkok yang menentang "kemerdekaan Taiwan" dan mempromosikan reunifikasi, yang sekali lagi menunjukkan bahwa kepatuhan masyarakat internasional terhadap prinsip satu- Tiongkok tidak tergoyahkan.

Ditegaskannya, setiap upaya untuk membantah atau menyangkal prinsip satu Tiongkok hanya akan berakhir dengan kegagalan. Wang mencatat bahwa Deklarasi Kairo 1943 dan Proklamasi Potsdam 1945 dengan jelas menetapkan bahwa Taiwan, wilayah Tiongkok yang dicuri oleh Jepang dan  harus dikembalikan ke Tiongkok. Dokumen-dokumen ini sesuai hukum internasional merupakan bagian integral dari tatanan internasional pasca-Perang Dunia II dan juga merupakan memori kolektif masyarakat internasional.

Wang juga menyebut, kegiatan separatis pasukan "kemerdekaan Taiwan" adalah tantangan paling serius bagi tatanan internasional dan ancaman terbesar bagi perdamaian dan stabilitas di seluruh Selat Taiwan. Prinsip satu Tiongkok adalah premis politik di mana Tiongkok menjalin dan mengembangkan hubungan diplomatik dengan negara lain, dan menjadi jangkar yang kokoh untuk perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Wang kembali menekankan, masalah Taiwan adalah urusan dalam negeri Tiongkok, dan ia mengatakan, mewujudkan reunifikasi total Tiongkok adalah tren sejarah yang tidak dapat dihentikan oleh kekuatan apa pun. [CGTN]