JAKARTA, Radio Bharata Online - Permintaan batu bara global diperkirakan masih akan tinggi, meskipun ada kesepakatan mengenai pengurangan emisi gas rumah kaca dalam KTT COP28 pada Desember lalu. 

Batu bara yang dianggap sebagai sumber energi fosil paling polutan, menjadi salah satu fokus dalam pengurangan emisi gas rumah kaca global.

Di tengah penurunan permintaan batu bara di Amerika Serikat, dan kemungkinan berkurangnya di Uni Eropa tahun ini, konsumsi batu bara global ternyata tetap naik 1,4% pada 2023, mencapai rekor 8,5 miliar ton. Kapasitas pembangkit listrik batu bara yang sedang dikembangkan juga meningkat sebesar 16%.

Bahkan di Eropa, gangguan pasokan gas dari Rusia, masih membuat konsumsi batu bara meningkat 0,9% tahun lalu, mencapai 448 juta ton. Proyeksi konsumsi batu bara Uni Eropa pada 2023 sebelumnya diperkirakan akan tumbuh hingga 2%.

Di Asia, permintaan batu bara masih berpotensi tumbuh dalam beberapa tahun ke depan, mengimbangi penurunan struktural konsumsi di Amerika dan Eropa, akibat kebijakan pembatasan penggunaan energi fosil.

Secara global, lebih dari 107 negara dan 2.000 entitas menggunakan batu bara melalui sekitar 13.800 unit batu bara. Saat ini, 204 pembangkit listrik batu bara baru sedang dibangun, 93 proyek telah diumumkan, dan 260 proyek baru berada dalam tahap pra-konstruksi. Penggunaan batu bara di seluruh dunia masih menyumbang 36% dari produksi listrik global, mencapai rekor baru sebesar 10.440 tera-wat jam pada tahun 2022.

Mengutip Laporan Geopolitical Intelligence Services, Tiongkok, India, dan Indonesia adalah kontributor terbesar terhadap permintaan batu bara di dunia, menyumbang sekitar 70% dari total permintaan global. Bersama dengan ASEAN, persentase ini meningkat menjadi 76%, sedangkan AS dan UE diperkirakan hanya menyumbang 8% pada 2024, turun dari 40% dibanding 30 tahun lalu.

Tiongkok, sebagai pengguna batu bara terbesar di dunia, menyumbang lebih dari 50% permintaan global. Meskipun negara ini berjanji untuk tidak membangun pembangkit listrik batu bara baru di luar negeri sebagai bagian dari Belt and Road Initiative, permintaan batu bara domestiknya terus meningkat.

Pada 2022, permintaan batu bara Tiongkok tumbuh 4,6% menjadi rekor tertinggi 4,52 miliar ton. Beijing mempercepat pembangunan pembangkit listrik batu bara sejak April 2021, meskipun Presiden Xi Jinping berjanji untuk "mengendalikan dengan ketat" proyek-proyek tersebut.

Beberapa negara Asia, termasuk India, Pakistan, Indonesia, dan Kazakhstan, mencatatkan rekor produksi dan konsumsi batu bara pada 2022. Mereka dihadapkan pada pembangkit listrik batu bara yang tua dan tidak efisien, memerlukan penggantian untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik di masa mendatang. Harga batu bara dalam negeri yang relatif murah dan cadangan yang masih melimpah, mendukung keberlanjutan penggunaannya sebagai sumber energi utama. (CNBC)