Beijing, Bharata Online - Tiongkok sedang memobilisasi semua sektor sosial untuk secara aktif mengatasi penurunan angka kelahiran dan mendorong lingkungan yang ramah terhadap pengasuhan anak.
Wang Changming, seorang karyawan di JD.com, raksasa e-commerce terkemuka yang berbasis di Beijing, membawa putranya yang berusia dua tahun ke tempat kerja setiap hari.
Perjalanan setengah jam dari rumah ke kantor memberikan momen manis yang langka bagi ayah dan anak. Namun, bagi banyak orang tua yang bekerja di Tiongkok, pagi hari menyerupai perlombaan yang panik saat mereka mengantar anak-anak mereka ke tempat penitipan anak dan bergegas kembali ke pekerjaan mereka.
Seiring keluarga bermigrasi ke kota-kota besar, sistem dukungan tradisional yang diberikan oleh kakek-nenek perlahan memudar. Di sinilah perusahaan seperti milik Wang berperan. Perusahaannya mengoperasikan pusat penitipan anak internal, sebuah perubahan kecil namun berdampak yang meringankan beban harian Wang.
"Kami benar-benar membutuhkan ini. Menyeimbangkan pekerjaan dan anak-anak itu sulit," kata Wang.
Citra orang tua yang mengelola pekerjaan dan pengasuhan anak di bawah satu atap masih relatif jarang di Tiongkok, tetapi secara bertahap mulai mendapatkan daya tarik.
Pada tahun 2023, negara ini mencatat sekitar 9 juta kelahiran baru, dengan angka kelahiran sekitar 6 per 1.000 orang, lebih dari setengah angka yang terlihat pada tahun 2016.
Di balik angka-angka itu terdapat perjuangan yang dihadapi oleh kaum muda: ketegangan antara pemenuhan diri dan memulai keluarga. Untuk mengatasi hal ini, Tiongkok sedang menenun tatanan sosial baru yang mendorong pengasuhan anak sebagai upaya bersama ketimbang perjuangan pribadi.
Layanan penitipan anak perusahaan hanyalah salah satu bagian dari solusi, dan dukungan komunitas juga memainkan peran penting. Tekanan pendidikan terus menjadi hambatan signifikan bagi keluarga yang mempertimbangkan untuk memiliki anak, dan tidak ada yang lebih menyoroti ketegangan ini selain waktu mengerjakan pekerjaan rumah, seperti yang diilustrasikan oleh banyak klip video pendek yang mencerminkan dinamika hubungan orang tua-anak yang tegang.
"(Sembilan puluh persen) guru sekolah sudah memikul sebagian besar pekerjaan akademis. Apa yang kami lakukan di sini sebagai komunitas adalah mengisi celah yang tidak selalu dapat ditutupi oleh keluarga. Pertumbuhan anak bergantung pada lebih dari sekadar orang tua dan sekolah. Ini adalah upaya bersama di seluruh komunitas," ujar Song Zhihe, seorang tutor setelah sekolah.
Song mengelola pusat bimbingan belajar sepulang sekolah yang setiap hari kerja, stafnya menjemput anak-anak, menyajikan makan malam, dan mengawasi pekerjaan rumah hingga orang tua mereka selesai bekerja.
Ia mengatakan, banyak orang tua, setelah seharian bekerja, kekurangan energi atau pengalaman untuk membimbing anak-anak mereka secara efektif.
Selain inisiatif perusahaan dan komunitas, pemerintah Tiongkok juga mendorong masyarakat yang lebih ramah anak.
Mulai tahun 2025, setiap keluarga dengan anak di bawah usia tiga tahun akan menerima subsidi penitipan anak tahunan sebesar 3.600 yuan (sekitar 8,6 juta rupiah), tanpa memandang wilayah atau pendapatan.
Dari tahun 2021 hingga 2024, Tiongkok telah menginvestasikan sekitar 5 miliar yuan (sekitar 12 triliun rupiah) untuk memperluas penitipan anak publik di seluruh negeri. Selain itu, kebijakan perumahan dan perawatan kesehatan sedang direvisi agar lebih ramah keluarga.
"Kami dapat merasakan bahwa arah kebijakan sangat positif. Misalnya, pengeluaran harian anak sekitar 500 yuan (sekitar 1,2 juta rupiah) per bulan. Subsidi 3.600 yuan (sekitar 8,6 juta rupiah) pada dasarnya menutupi sebagian besar biaya tersebut," ungkap Wang.
Langkah-langkah itu menandai pergeseran tajam dari sekadar mengelola ukuran populasi menjadi meningkatkan pertumbuhan dan kesejahteraan keluarga. Selangkah demi selangkah, Tiongkok berupaya menemukan keseimbangan baru antara pekerjaan, pengasuhan, dan aspirasi untuk generasi mendatang.