Santiago, Bharata Online - Sebuah laporan baru Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dirilis pada hari Rabu (19/11) memperingatkan bahwa tarif AS yang lebih tinggi memicu ketidakpastian pasar yang meningkat di seluruh Amerika Latin dan Karibia, dengan dampak penuh diperkirakan akan terjadi pada tahun 2026.

Prospek Perdagangan Internasional untuk Amerika Latin dan Karibia 2025, yang dirilis oleh Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC), menunjukkan bahwa meskipun kawasan itu saat ini menghadapi tarif efektif rata-rata sekitar 10 persen setelah kenaikan tarif AS pada Februari 2025, yang masih di bawah rata-rata global sebesar 17 persen, dampak penuh dari perubahan kebijakan ini kemungkinan akan terlihat pada tahun 2026.

"Tahun 2026 akan menjadi tahun pertama dengan 12 bulan penuh di bawah tarif baru, dan saat itulah kita akan sepenuhnya merasakan dampaknya. Dampaknya tidak akan terbatas pada Amerika Latin. Pasar domestik AS juga akan menghadapi guncangan yang lebih besar, terutama di sektor ritel, di mana konsumen mungkin mengalami inflasi. Perusahaan multinasional AS yang mengandalkan pasokan dari Amerika Latin juga akan menanggung tekanan biaya," ujar José Manuel Salazar-Xirinachs, Sekretaris Eksekutif ECLAC.

Laporan itu lebih lanjut memperingatkan bahwa pergeseran kebijakan perdagangan AS memengaruhi aliran investasi langsung asing (FDI) ke kawasan tersebut, terutama pada industri ekspor yang berorientasi ke pasar AS.

Pada paruh pertama tahun 2025, pengumuman proyek FDI di kawasan tersebut turun menjadi 31,37 miliar dolar, turun 53 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024, dan 37 persen di bawah rata-rata periode 2015-2024.

ECLAC mengimbau negara-negara di kawasan tersebut untuk memperkuat kerja sama dengan mitra dagang yang lebih luas, termasuk Tiongkok. Laporan tersebut juga merekomendasikan untuk menghindari langkah-langkah yang dapat meningkatkan ketidakpastian di tengah lanskap perdagangan global yang telah dirusak oleh gangguan besar dan ketegangan geopolitik.