Paris, Radio Bharata Online - Ilmuwan Prancis menggunakan debu bulan dari misi antariksa Chang'e-5 milik Tiongkok untuk mencoba membuka rahasia masa lalu bumi.

Sampel debu diambil oleh wahana Chang'e-5 milik Tiongkok pada bulan Desember 2020, dan 1,5 gram dari debu tersebut diberikan kepada Presiden Prancis, Emmanuel Macron, selama kunjungannya ke Tiongkok pada bulan April 2023 sebagai hadiah di bawah kerja sama antariksa Tiongkok-Prancis.

Pada tahun 2018, Tiongkok dan Prancis meluncurkan Satelit Oseanografi Tiongkok-Prancis (CFOSat), memulai misi bersama yang memungkinkan para ilmuwan dari kedua belah pihak untuk mempelajari interaksi antara lautan dan atmosfer bumi.

Saat ini, sampel bulan, yang mencakup satu gram yang diambil dari permukaan bulan, dan setengah gram material bawah permukaan yang diperoleh melalui pengeboran, telah memperdalam hubungan sains dan ruang angkasa antara kedua negara.

Para ilmuwan Prancis mengatakan bahwa debu kecil yang dibawa kembali ke bumi oleh misi antariksa Chang'e-5 adalah satu pot debu kecil tapi memiliki kemungkinan besar.

Seorang ahli dari Museum Sejarah Alam Prancis di Paris, tempat penyimpanan butiran bulan tersebut, mengatakan bahwa materi itu dapat membantu mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang luar angkasa.

"Materi luar angkasa mengajarkan kita berbagai hal dan menginformasikan kepada kita tentang bintang-bintang sebelum tata surya, tapi yang terpenting adalah pembentukan tata surya, pembentukan bintang kita, yaitu Matahari, pembentukan planet-planet, serta satelit-satelit dari planet-planet tersebut, dan dalam kasus ini, satelit kita, yaitu Bulan," ujar Jean Duprat, Direktur Penelitian Museum Sejarah Alam Perancis.

Frederic Moynier, seorang profesor di City University of Paris yang bekerja di tim kosmokimia, astrofisika, dan geofisika eksperimental, mengatakan bahwa sampel-sampel tersebut dan kerja sama internasional di bidang ini sangat penting untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang tata surya dan memahami pembentukannya.

"Kami beruntung bahwa kami telah memiliki beberapa sampel dari Bulan melalui misi Amerika, Apollo, dan sekarang dengan misi Tiongkok dengan misi Chang'e dengan meteorit dan kami memiliki pemahaman yang sangat baik atau pemahaman yang lebih baik dari sebelumnya tentang bagaimana Bulan terbentuk, mengapa kita memiliki satelit, dan mengapa kita memiliki Bulan," ujar profesor tersebut.

Sampel-sampel tersebut juga dikirim ke Institut Fisika Planet Paris, tempat para ilmuwan menganalisis gas-gas yang ada di dalam batuan yang jatuh ke bumi dan juga di dalam debu yang dibawa kembali.

Profesor Moynier mengatakan bahwa penelitian semacam itu dapat membantu manusia memahami sejarah planet kita.

"Bulan adalah planet yang sangat statis, tidak ada yang terjadi pada Bulan sejak ia terbentuk. Kita memiliki batuan dari Bulan yang jauh lebih tua daripada batuan paling tua di bumi. Jadi, bulan memberikan informasi tentang apa yang mungkin terjadi di menit-menit pertama kehidupan bumi," katanya.