Ningbo, Radio Bharata Online - Sebuah kedai kopi yang baru dibuka di Ningbo, Provinsi Zhejiang, Tiongkok timur, telah menempatkan seorang pria berusia 70 tahun di belakang meja dan dengan cepat menjadi perbincangan di kota tersebut. Ini semua berkat tim barista berambut abu-abu yang unik, suasana yang menyenangkan, dan harga yang terjangkau.
Dulunya merupakan perpustakaan kota, tempat ini mengalami transformasi setelah penduduk setempat mengungkapkan keinginan mereka untuk memiliki "kafe buku" sehingga mereka dapat menikmati buku yang bagus bersama secangkir kopi. Untungnya, pada bulan Oktober tahun lalu, sebuah lembaga filantropi menyumbangkan sebuah mesin kopi komersial tepat pada waktunya, yang menjadi awal dari renovasi.
Setelah berbulan-bulan melakukan perencanaan dan pelatihan, komunitas ini berhasil meminta bantuan sekelompok sukarelawan lansia dari masyarakat setempat yang bersedia menjadi barista, dan mengubah ruangan tersebut menjadi kafe buku yang nyaman.
Setelah melalui masa uji coba yang sukses selama lebih dari dua bulan, kedai kopi tersebut baru-baru ini merayakan pembukaan resminya. Dijuluki sebagai "kafe tertua di Ningbo", kedai ini dengan cepat mendapatkan popularitas di kalangan penduduk setempat karena suasananya yang menarik dan harganya yang terjangkau. Secangkir kopi dihargai 9,9 yuan (sekitar 22 ribu rupiah) sehingga menarik banyak penduduk sekitar untuk datang dan menikmati sajiannya.
"Ini luar biasa. Saya sangat menyukainya. Saya juga membawa teman-teman saya. Harganya sangat terjangkau," kata Zhang Xingyu, seorang penduduk setempat.
Para barista yang bersemangat di kedai kopi ini, yang berusia antara 55 hingga 77 tahun, merasa bangga dapat menyajikan secangkir kopi aromatik dengan keterampilan dan antusiasme serta memberikan kembali kepada komunitas mereka.
Di antara para sukarelawan yang rata-rata berusia 70 tahun, Wang Yafang, seorang barista berusia 74 tahun yang terampil, yang senang menyeduh kopi bersama rekan-rekannya yang juga berusia lanjut, menjadi contoh dedikasi dan kegembiraan yang terpancar dari tim sukarelawan di kedai kopi tersebut.
"Saya sangat senang berkontribusi kepada masyarakat, dan selain itu, saya juga senang berinteraksi dengan orang-orang di sini," kata Wang.
Khususnya, semua pendapatan yang dihasilkan oleh kedai kopi ini akan disalurkan ke dana kesejahteraan masyarakat, yang akan digunakan untuk mendukung berbagai inisiatif pengembangan masyarakat.