Jakarta, Radio Bharata Online - Isu Laut Tiongkok Selatan adalah satu-satunya sengketa global yang ditangani melalui dialog konstruktif, ujar seorang analis kebijakan luar negeri Indonesia pada hari Rabu (19/6) di Jakarta, dengan Forum Hubungan Masa Depan Tiongkok-ASEAN sedang berlangsung.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan China Global Television Network (CGTN), Dino Patti Djalal, Pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), menekankan pentingnya dialog dalam mendorong perdamaian dan mengatakan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh para pihak yang bertikai merupakan sebuah pertanda yang baik.
"Sengketa Laut Tiongkok Selatan adalah satu-satunya konflik besar di mana kedua belah pihak benar-benar berbicara dan duduk di atas meja. Rusia dan Ukraina tidak berbicara. Di Timur Tengah, Israel dan Palestina tidak berbicara. Di Semenanjung Korea, Korea Utara dan Korea Selatan tidak berbicara. Namun di Laut Tiongkok Selatan, kedua belah pihak yang bersengketa sebenarnya telah berbicara secara resmi (tentang) Kode Etik di Laut Tiongkok Selatan. Dan ini merupakan pertanda baik. Saya harap mereka dapat segera menyelesaikan pekerjaan mereka," kata Djalal.
Pada KTT ASEAN-Tiongkok ke-26 pada bulan September 2023, kedua belah pihak mengadopsi Pedoman untuk Mempercepat Penyelesaian Awal Kode Etik yang Efektif dan Substantif di Laut Tiongkok Selatan. Pedoman ini menetapkan peta jalan untuk negosiasi kode etik atau Code of Conduct (COC), termasuk jadwal untuk menyelesaikan perjanjian dan daftar isu-isu utama yang harus ditangani.