JAKARTA, Radio Bharata Online - Korps Garda Revolusi Islam Iran, mengonfirmasi pada hari Rabu, terbunuhnya Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh Teheran, ibu kota Iran. Menurut pernyataan yang dipublikasikan di outlet berita resmi IRGC, Sepah News, Haniyeh dan pengawalnya tewas Rabu dini hari, ketika tempat tinggal mereka diserang di Teheran. 

Ebrahim Rezaei, juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, mengatakan kepada wartawan bahwa komite tersebut akan mengadakan pertemuan di kemudian hari, untuk menyelidiki dan membahas insiden tersebut.

Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, mengecam pembunuhan tersebut sebagai "tindakan pengecut dan eskalasi serius."  Ia meminta rakyat dan pasukan untuk bersatu, tetap sabar, dan berdiri teguh melawan pendudukan Israel.

Qatar dan Mesir, yang telah bertindak sebagai mediator dalam negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas, mengatakan bahwa pembunuhan Haniyeh dapat berbahaya bagi upaya untuk mengamankan gencatan senjata di Gaza.

Kementerian Luar Negeri Malaysia dalam sebuah pernyataan mengatakan, bahwa Malaysia mengutuk keras pembunuhan Haniyeh, dan menyampaikan belasungkawa dan simpati yang sedalam-dalamnya kepada anggota keluarga, serta kepada para pemimpin dan rakyat Palestina.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Mikhail Bogdanov mengatakan bahwa kematian Haniyeh adalah "pembunuhan politik yang sama sekali tidak dapat diterima."

Turki juga mengutuk pembunuhan tersebut, dengan mengatakan bahwa serangan itu "bertujuan untuk menyebarkan perang di Gaza ke wilayah tersebut."

Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati mengutuk pembunuhan Haniyeh selama rapat kabinet, dengan memperingatkan tentang "bahaya serius yang dapat memperluas lingkaran bahaya di wilayah itu."

Hizbullah, pada hari Rabu juga menyampaikan belasungkawa atas "kemartiran" Haniyeh, menyebutnya sebagai "salah satu pemimpin perlawanan hebat di era saat ini, yang berdiri dengan penuh keberanian dalam menghadapi proyek hegemoni Amerika dan pendudukan Zionis."

Pemerintah sementara Afghanistan juga menyampaikan belasungkawa atas kematian Haniyeh, menurut juru bicara pemerintahan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian mengatakan pada hari Rabu, bahwa Tiongkok sangat prihatin dengan kematian Haniyeh, dan dengan tegas menentang dan mengutuk pembunuhan.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, bahwa mencapai gencatan senjata di Gaza "adalah keharusan yang tak kunjung berakhir" setelah pembunuhan Haniyeh. 

Sementara Jerman menekankan seruan internasional untuk menahan diri, guna menghindari "kebakaran regional."

Indonesia melalui akun X Kementerian Luar Negeri, memberikan respons atas kematian pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, dan menilai pembunuhan itu sebagai tindakan provokatif, yang dapat meningkatkan eskalasi konflik di kawasan, dan merusak proses negosiasi yang terus diupayakan. (Berbagai Sumber)