Shenzhen, Bharata Online - Kolaborasi internasional yang dipimpin oleh Tiongkok telah meluncurkan peta jalan satu dekade pertama di Asia untuk membangun sel sintetis, sebuah cetak biru penting yang memetakan jalur sistematis menuju penciptaan kehidupan buatan dari awal.
Dipimpin oleh Liu Chenli, Direktur Institut Teknologi Canggih Shenzhen (SIAT) di Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, inisiatif ini menyatukan lebih dari 100 laboratorium di enam negara Asia: Tiongkok, Jepang, Republik Korea, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Peta jalan tersebut diterbitkan pada hari Selasa (26/5) di jurnal Nature Biotechnology.
Ini menandai pertama kalinya Asia menghasilkan cetak biru pengembangan sistematis seputar konsep bentuk kehidupan sel tunggal buatan, menetapkan tolok ukur ilmiah baru untuk penelitian sel sintetis selama dekade berikutnya.
"Dengan menyatukan para ilmuwan dari enam negara Asia, kami meluncurkan Inisiatif SynCell Asia, membentuk upaya kolaboratif untuk mengatasi tantangan ilmiah mendasar yang inovatif dalam mensintesis organisme uniseluler secara artifisial," ujar Liu.
Tidak seperti sel hasil rekayasa genetika yang memodifikasi organisme yang sudah ada, sel sintetis merakit kehidupan dari makromolekul biologis, seperti fosfolipid, protein, dan DNA, untuk menciptakan sistem sel tunggal dasar yang berfungsi seperti organisme hidup. Salah satu tujuan inisiatif ini adalah untuk menjawab pertanyaan mendasar yang telah menarik perhatian umat manusia selama berabad-abad: dapatkah kehidupan diciptakan dari materi non-hidup?
Peta jalan ini mengidentifikasi tantangan inti bagi para ilmuwan: mempertahankan metabolisme berkelanjutan atau "kontinuitas metabolik"; memastikan pembaruan diri pabrik protein, yang dikenal sebagai "regenerasi ribosom otonom"; dan menyelesaikan masalah yang terkait dengan desain modular dan koordinasi waktu yang kompleks.
Untuk mengatasi hambatan ini, cetak biru tersebut mengusulkan "bio-foundry" bertenaga AI yang beroperasi di bawah pabrik pusat dengan "stasiun kerja terdistribusi". Sementara platform pusat di SIAT akan menyiapkan komponen dan sasis standar, tim peneliti di seluruh Asia akan berkolaborasi dalam desain, sintesis, dan pengujian.
Cetak biru ini menetapkan strategi dua fase untuk dekade berikutnya. Fase pertama menargetkan penciptaan "proto-sel" yang memiliki struktur vesikel fosfolipid yang stabil. Fase kedua bertujuan untuk membangun "auto-sel" yang mampu melakukan regenerasi ribosom secara otonom, artinya sel tersebut dapat memproduksi mesin pembuat proteinnya sendiri secara internal, dan menyelesaikan lebih dari 10 siklus pertumbuhan-pembelahan yang berkelanjutan dan terkoordinasi.
Transisi tersebut akan memajukan sel sintetis dari sekadar operasi menjadi replikasi diri yang sesungguhnya, yang merupakan lompatan besar ke depan di bidang ini.