Piraeus, Radio Bharata Online - Prakarsa Sabuk dan Jalan Tiongkok dan Belt and Road Initiative (BRI) secara signifikan memprioritaskan konektivitas infrastruktur di antara negara-negara mitranya, menurut sebuah buku putih yang dirilis oleh pemerintah Tiongkok baru-baru ini.

Dalam buku putih yang dirilis oleh Kantor Informasi Dewan Negara Tiongkok pada hari Selasa (10/10), Tiongkok mengatakan bahwa BRI sedang membangun jaringan infrastruktur yang terdiri dari "enam koridor, enam rute, dan beberapa negara dan pelabuhan."

Buku putih tersebut mengutip kemajuan dalam pembangunan koridor-koridor ekonomi dan rute-rute internasional seperti Jembatan Peljesac yang menghubungkan Kroasia dan Jalur Kereta Api Tiongkok-Laos sepanjang 1.035 kilometer.

Laporan ini juga mencatat bahwa konektivitas maritim telah meningkatkan efisiensi transportasi kargo. Contohnya adalah Pelabuhan Piraeus di Yunani. Sebagai pelabuhan laut terbesar di negara Mediterania, Pelabuhan Piraeus berada di ambang kebangkrutan pada tahun 2009 karena Yunani menghadapi krisis utang. Tapi, pada tahun 2022, pelabuhan ini mengumumkan pendapatan dan keuntungan yang memecahkan rekor berkat kerja samanya dengan raksasa pelayaran Tiongkok, COSCO.

Kini, kapasitas penanganan kargo di pelabuhan ini telah meningkat menjadi lebih dari lima juta unit setara 20 kaki, menjadikannya pelabuhan TEU terbesar keempat di Eropa.

Di bidang penerbangan, Tiongkok telah menandatangani perjanjian transportasi udara dengan lebih dari 100 negara mitra BRI dan membuka penerbangan langsung dengan 57 negara mitra.

Jalur transportasi internasional seperti Kereta Api Ekspres Tiongkok-Eropa dan Jalur Darat-Laut Eurasia Baru Lianyungang-Khorgos juga telah dikembangkan. Kereta Api Tiongkok-Eropa sekarang menjangkau 200 kota di 25 negara Eropa.