BEIJING, Radio Bharata Online - Sejak Tiongkok menjadi negara dengan masyarakat lanjut usia pada akhir abad ke-20, jumlah dan proporsi penduduk lanjut usia terus bertambah.  Menurut laporan terbaru yang dirilis oleh Kementerian Urusan Sipil, populasi lansia Tiongkok berusia 60 tahun ke atas telah mencapai 280,04 juta pada akhir tahun 2022, atau mencakup 19,8 persen dari total populasi.

Para ahli demografi mengatakan, Tiongkok menaruh perhatian besar untuk mengatasi tantangan yang disebabkan oleh populasi menua, namun masih banyak hal yang bisa diperbaiki, seperti lebih mengoptimalkan sistem jaminan sosial.

Laporan bertajuk Komunike Pembangunan Nasional itu juga menyebutkan,

populasi lansia berusia 65 tahun ke atas di negara ini mencapai 209,78 juta jiwa pada tahun 2022, atau mencakup 14,9 persen dari total populasi, sementara rasio ketergantungan nasional untuk populasi lansia berusia 65 tahun ke atas mencapai 21,8 persen.

Pada tahun 2000 hingga 2018, populasi lansia berusia 60 tahun ke atas meningkat dari 126 juta menjadi 249 juta, dan pada tahun 2022 jumlahnya mencapai 280 juta.  Proporsi penduduk lanjut usia juga meningkat dari 10,2 persen pada tahun 2000 menjadi 17,9 persen pada tahun 2018, dan selanjutnya menjadi 19,8 persen pada tahun 2022.

Yuan Xin, seorang profesor dari Institut Kependudukan dan Pembangunan di Fakultas Ekonomi Universitas Nankai, mengatakan, setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, terdapat tiga puncak kelahiran.  Diperkirakan jumlah populasi lansia akan mencapai puncaknya sebesar 520 juta pada tahun 2054.

Tingkat penuaan di Tiongkok lebih cepat dibandingkan 15 negara dengan jumlah penduduk lebih dari 100 juta jiwa di dunia. Salah satu penyebabnya adalah penurunan tingkat kesuburan. (Global Times)