Mesir, Bharata Online - Mesir tengah meningkatkan upaya untuk menyambut wisatawan asal Tiongkok sebagai bagian dari targetnya untuk menaikkan jumlah kunjungan wisatawan tahunan, dari 19 juta saat ini menjadi 100 juta, dengan tujuan meningkatkan perolehan devisa bagi perekonomian negara yang sedang berkembang tersebut.
Bagi wisatawan Tiongkok yang telah berkunjung ke berbagai kuil kuno dan monumen bersejarah di Mesir, sejarah serta budaya negara ini telah memberikan pengalaman yang kaya.
"Kami mengunjungi Piramida; tempat itu sangat megah, mengesankan, dan kaya akan sejarah. Kami juga mengunjungi museum-museum yang sangat memukau. Ini adalah tempat dengan sejarah dan budaya yang mendalam. Saya sangat menyukai Mesir dan ingin merasakan budaya serta adat istiadat setempat," ujar Zhan, seorang wisatawan asal Tiongkok.
Pada tahun 2025, pendapatan sektor pariwisata Mesir mencapai 16,7 miliar dolar AS (sekitar 303,5 triliun rupiah), yang berkontribusi sebesar 3,7 persen terhadap PDB negara tersebut.
Data resmi menunjukkan bahwa sekitar 350.000 wisatawan Tiongkok berkunjung ke Mesir pada tahun 2025. Meskipun sebagian besar wisatawan yang datang ke Mesir berasal dari Eropa dan kawasan Arab, pemerintah Mesir baru-baru ini memperkenalkan berbagai insentif untuk meningkatkan jumlah kunjungan dari Tiongkok.
"Visa Mesir kini bisa didapatkan di pintu masuk mana pun. Ini merupakan kemudahan besar yang memungkinkan wisatawan untuk langsung terbang dan menikmati pengalaman mereka di sini. Selain itu, paket wisata yang ditawarkan juga cukup terjangkau jika dibandingkan dengan pengalaman yang didapatkan oleh wisatawan," kata Ghada Shalaby, Mantan Wakil Menteri Pariwisata Mesir.
Layanan pariwisata lokal pun terus berbenah. Para pemandu wisata mencatat bahwa dukungan bahasa telah diperluas, seiring dengan langkah berbagai universitas besar untuk mendirikan pusat pembelajaran bahasa Tiongkok, yang membuat perjalanan bagi wisatawan asal Tiongkok menjadi lebih nyaman.
"Jumlah orang Mesir yang bisa berbahasa Tiongkok telah meningkat secara signifikan karena banyaknya pusat bahasa yang dibuka. Sebelumnya, hanya ada sedikit pusat pembelajaran, seperti program di Universitas Aswan, Universitas Ain Shams, dan Universitas Kairo. Pusat-pusat khusus ini membuat perjalanan bagi wisatawan Tiongkok menjadi jauh lebih mudah," ungkap Ayman Mahmoud, seorang pemandu wisata lokal.
Pemandu wisata tersebut menambahkan bahwa upaya promosi masih menjadi tantangan, khususnya dalam memanfaatkan platform media sosial untuk menjangkau wisatawan asal Tiongkok.
"Sebagai contoh, mungkin terdapat kekurangan dalam periklanan yang efektif. Permintaan pasar di Mesir tergolong kuat, namun wisatawan asal Tiongkok semakin mengandalkan media sosial," ujar Mahmoud.