Beijing, Radio Bharata Online - Bank Sentral Tiongkok atau People's Bank of China (PBOC) menyuntikkan 995 miliar yuan (sekitar 2.179 triliun rupiah) ke dalam pasar keuangan Tiongkok pada hari Senin (15/1) melalui penyediaan fasilitas pinjaman jangka menengah (medium-term lending facility/MLF) selama satu tahun, dengan tetap mempertahankan tingkat suku bunganya di 2,5 persen untuk menjaga likuiditas yang wajar dan memadai dalam sistem perbankan.
Dengan 779 miliar yuan (sekitar 1.706 triliun rupiah) pinjaman MLF yang jatuh tempo bulan ini, bank tersebut terus memperbarui pinjaman, membuat investasi bersih sebesar 216 miliar yuan (sekitar 473 triliun rupiah). Para ahli mengatakan bahwa perpanjangan itu akan membantu meningkatkan stabilitas pendanaan dalam sistem perbankan dan memberikan dukungan yang lebih besar kepada ekonomi riil.
"Pemerintah telah mempercepat penerbitan obligasi dan perpanjangan kredit di awal tahun, yang berdampak pada likuiditas pasar. Bank sentral telah menyuntikkan pinjaman ke pasar melalui MLF selama tiga bulan berturut-turut, menyuntikkan lebih banyak likuiditas ke pasar untuk membantu menjaga likuiditas pasar yang wajar dan cukup dan memastikan kelancaran operasi pasar keuangan di awal tahun baru," kata Dong Ximiao, seorang Kepala Peneliti di China Merchants Union.
MLF adalah sebuah alat kebijakan yang digunakan oleh PBOC untuk menyediakan uang dasar kepada bank-bank, yang menyediakan obligasi treasury atau tagihan bank sentral sebagai jaminan kepada PBOC. Bank sentral tersebut memberikan pinjaman MLF melalui proses lelang dan memberikan dukungan keuangan kepada bank-bank dengan jangka waktu tiga bulan, enam bulan, dan satu tahun.