BHARATA ONLINE - Diperkirakan lebih dari 50.000 orang meninggal di berbagai kota di Eropa selama gelombang panas  ekstrem yang melanda benua itu musim panas ini, menjadikan gelombang panas tahun 2026 sebagai yang paling mematikan di kawasan tersebut, menurut analisis baru.

Studi yang dirilis oleh London School of Hygiene and Tropical Medicine pada hari Jumat menganalisis data suhu dari 854 wilayah perkotaan di 27 negara anggota Uni Eropa serta Inggris, Norwegia, dan Swiss—wilayah yang dihuni oleh sekitar 40 persen dari gabungan populasi 30 negara tersebut.

Studi tersebut memperkirakan bahwa kematian terkait panas di daerah-daerah ini pada musim panas ini adalah yang tertinggi sejak tahun 2000.

Para peneliti mencatat bahwa semakin banyak bukti menunjukkan bahwa kota-kota Eropa belum cukup beradaptasi dengan kenaikan suhu, dan kapasitas respons harus diperkuat melalui langkah-langkah seperti memperluas ruang hijau, mengurangi polusi, dan menyediakan layanan medis kepada penduduk yang terkena dampak. [sumber CCTV+]