Bharata Online - Apa yang terjadi di Changchun melalui pembukaan Musim Olahraga Es dan Salju Nasional ke-12 sejatinya bukan sekadar festival olahraga atau agenda hiburan musiman. Ia adalah potret nyata bagaimana Tiongkok bekerja secara sistemik, terencana, dan jangka panjang dalam mengubah satu sektor yang dulu dianggap elitis dan marginal, yaitu olahraga musim dingin menjadi mesin kekuatan ekonomi, sosial, budaya, sekaligus geopolitik.

Dalam perspektif hubungan internasional, fenomena ini mencerminkan keunggulan model pembangunan Tiongkok yang semakin kontras jika dibandingkan dengan pendekatan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat yang cenderung terfragmentasi, berbasis pasar semata, dan minim koordinasi strategis nasional.

Dari kacamata liberalisme institusional, keterlibatan Presiden Komite Olimpiade Internasional melalui pesan video bukan sekadar simbol seremonial, tetapi bukti bahwa Tiongkok berhasil menempatkan dirinya sebagai aktor sentral dalam tata kelola olahraga global. Namun yang membedakan Tiongkok dari Barat adalah kemampuannya menerjemahkan legitimasi internasional itu ke dalam mobilisasi domestik skala masif.

Lebih dari 2.000 kegiatan olahraga es dan salju yang digelar serentak di seluruh negeri menunjukkan bahwa kebijakan publik di Tiongkok tidak berhenti pada event global, tetapi mengalir hingga ke tingkat masyarakat akar rumput. Di Barat, Olimpiade sering berakhir sebagai pesta sesaat. Sementara di Tiongkok, ia dijadikan titik awal transformasi struktural.

Pendekatan ini sangat sejalan dengan paradigma developmental state, yaitu negara berperan aktif sebagai arsitek pembangunan, bukan sekadar wasit pasar. Target ekonomi es dan salju sebesar 1,5 triliun yuan (sekitar Rp3,6 kuadriliun) pada tahun 2030 memperlihatkan bahwa olahraga tidak dipandang sebagai beban anggaran atau aktivitas rekreasi belaka, melainkan sebagai sektor industri strategis.

Pemerintah Tiongkok secara sadar mengaitkan olahraga musim dingin dengan pariwisata, manufaktur, e-commerce, transportasi, hingga revitalisasi wilayah timur laut yang selama ini kerap dilabeli “wilayah lama”. Ini adalah contoh konkret bagaimana kebijakan industri, kebijakan wilayah, dan kebijakan budaya disatukan dalam satu kerangka besar.

Dari perspektif realisme ekonomi, penguasaan infrastruktur menjadi kunci. Data tentang jaringan kereta cepat Shenyang–Baihe yang memangkas waktu tempuh Beijing–Gunung Changbai dari hampir satu hari menjadi sekitar lebih dari empat jam adalah bukti betapa seriusnya Tiongkok membangun keunggulan struktural.

Infrastruktur ini bukan hanya melayani wisatawan, tetapi menciptakan ketergantungan ekonomi baru, mengalihkan arus konsumsi, dan memperkuat integrasi wilayah. AS dan banyak negara Barat, sebaliknya, masih terjebak dalam perdebatan politik internal soal anggaran, lingkungan, dan kepentingan korporasi, sehingga pembangunan infrastruktur strategis kerap stagnan.

Keunggulan Tiongkok juga tampak dari sisi sosiologis dan budaya. Dengan melibatkan figur atlet nasional seperti Wu Dajing dan Zhou Yang, negara berhasil membangun narasi kolektif bahwa olahraga musim dingin adalah bagian dari gaya hidup modern, sehat, dan patriotik. Ini mencerminkan kekuatan soft power domestik, sesuatu yang sering diabaikan Barat yang terlalu percaya pada daya tarik budaya pop global. Di Tiongkok, soft power tidak hanya diekspor keluar, tetapi terlebih dahulu dipatri ke dalam masyarakatnya sendiri.

Pertumbuhan jumlah pemain ski nasional hingga 26 juta orang dan prediksi bahwa Tiongkok akan menjadi pasar ski terbesar dunia pada 2035 menunjukkan transformasi preferensi konsumsi kelas menengah yang sangat cepat. Ini menantang asumsi Barat bahwa olahraga musim dingin hanya bisa tumbuh di negara-negara dengan tradisi panjang dan iklim tertentu.

Tapi, Tiongkok justru membuktikan sebaliknya bahwa ternyata dengan teknologi salju buatan berstandar Olimpiade, investasi fasilitas pemula, dan harga yang makin terjangkau, hambatan alam dan budaya bisa diatasi. Di sini terlihat keunggulan pendekatan pragmatis Tiongkok dibandingkan romantisme pasar bebas Barat.

Dari perspektif ekonomi politik internasional, lonjakan permintaan di Pasar Yiwu dan meningkatnya ekspor perlengkapan ski ke Rusia, Eropa, hingga Amerika Selatan memperlihatkan bagaimana Tiongkok memanfaatkan pasar domestik raksasa sebagai basis ekspansi global.

Produsen lokal yang mampu meningkatkan produksi hingga 20 persen per tahun menunjukkan bahwa rantai nilai global tidak lagi didominasi sepenuhnya oleh merek Barat. Bahkan merek Swiss seperti Faction mengakui bahwa Tiongkok kini menjadi pasar e-commerce terbesar kedua mereka secara global. Ini menegaskan bahwa Tiongkok bukan hanya pasar, tetapi juga pusat gravitasi baru dalam industri olahraga dunia.

Jika dilihat melalui paradigma power transition, perkembangan ini memiliki implikasi strategis jangka panjang. Ketika Barat masih berkutat pada polarisasi politik dan ketimpangan sosial, Tiongkok justru membangun basis kekuatan nasional melalui sektor-sektor yang tampak “lunak” namun berdampak sistemik. Olahraga musim dingin menjadi medium untuk meningkatkan kesehatan publik, mendorong konsumsi domestik, memperkuat identitas nasional, dan sekaligus memperluas pengaruh ekonomi global. Inilah bentuk kekuatan komprehensif yang sulit ditandingi oleh model Barat yang cenderung parsial.

Lebih jauh lagi, integrasi antara event internasional FIS, pariwisata regional di Chongli, okupansi hotel yang nyaris penuh, hingga layanan transportasi ramah pemain ski menunjukkan tingkat koordinasi kebijakan yang sangat tinggi. Di banyak negara Barat, sektor-sektor ini sering berjalan sendiri-sendiri, terhambat birokrasi, atau bergantung pada inisiatif swasta yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional.

Pada akhirnya, kisah kebangkitan ekonomi es dan salju Tiongkok adalah cerminan dari keunggulan model pembangunan yang menggabungkan visi negara, kapasitas administratif, dan mobilisasi sosial. Ini bukan sekadar soal ski, salju, atau festival musim dingin, melainkan tentang bagaimana Tiongkok membaca masa depan dan menyiapkan fondasinya hari ini.

Dalam konteks persaingan global, Barat boleh jadi masih unggul dalam narasi dan moralitas politik, tetapi dalam hal efektivitas, konsistensi, dan kemampuan mengubah kebijakan menjadi hasil nyata, Tiongkok semakin menunjukkan bahwa ia telah melampaui AS dan sekutunya.