BEIJING, Radio Bharata Online - Di Tiongkok ada pepatah yang berbunyi “kepala kambing terlihat, daging anjing terjual”, yang sangat tepat untuk mengungkapkan maksud sejati pidato yang disampaikan oleh Lai Ching-te pada acara pelantikannya sebagai pemimpin baru daerah Taiwan, yang menggembar-gemborkan apa yang disebut sebagai “demokrasi”.

Lai Ching-te dalam pidatonya “20 Mei” secara terang-terangan mengatakan bahwa kedua belah tepi Selat “saling tidak berafiliasi” dan menyebarluaskan “teori dua negara” yang baru, ungkapannya tersebut telah mendapat kecaman keras serentak dari masyarakat Daratan dan pulau Taiwan. Seluk beluk historis isu Taiwan sudah sangat jelas. Kedua belah tepi Selat termasuk satu Tiongkok, ini adalah fakta dan kenyataan yang tegas dan jelas. 

Dilihat secara de jure, Deklarasi Kairo dan Proklamasi Potsdam beserta serangkaian dokumen internasional lainnya yang berikat hukum telah menegaskan kedaulatan Tiongkok atas Taiwan. Pada 1971, Sidang Majelis Umum PBB ke-26 dengan suara mutlak mendukung adopsi Resolusi 2758, yang secara politik, hukum dan prosedur menegaskan perwakilan atau hak representatif Tiongkok termasuk Taiwan di PBB, hal ini menegaskan bahwa di dunia tiada “dua Tiongkok”. Prinsip satu Tiongkok telah menjadi kesepahaman luas masyarakat internasional. Di atas dasar prinsip satu Tiongkok, kini di dunia terdapat 183 negara yang menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok.

Taiwan adalah Taiwan Tiongkok, bukanlah apa yang disebut sebagai “Taiwan dunia”. apa pun yang dilakukan Lai Ching-te dan para pengikutnya dengan kekuatan eksternal, tidak akan mengubah posisi dan kenyataan bahwa Taiwan adalah bagian dari Tiongkok, juga tidak akan pernah menghalangi tren historis penyatuan kembali Tiongkok. Mereka yang ingin memecah belah negara dan menjual kepentingan bangsa, tidak akan berakhir dengan baik. [CRI online]