Beijing, Radio Bharata Online - Seorang pejabat senior bea cukai Tiongkok mengatakan pada hari Jum'at (12/1) bahwa Perdagangan Tiongkok dengan negara-negara yang berpartisipasi dalam Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) mencatat pertumbuhan yang kuat pada tahun 2023, dengan total 19,47 triliun yuan (sekitar 43 ribu triliun rupiah), tertinggi sejak prakarsa tersebut diusulkan 10 tahun yang lalu.
Wang Lingjun, Wakil Direktur Administrasi Umum Bea Cukai Tiongkok, memberikan pengarahan kepada media tentang impor dan ekspor negara tersebut dengan negara-negara mitra BRI pada tahun lalu, menyoroti perdagangan yang lebih dekat, bea cukai yang lebih efisien untuk barang, dan kerja sama yang saling menguntungkan.
"Pada tahun 2023, impor dan ekspor Tiongkok dengan negara-negara mitra Prakarsa Sabuk dan Jalan naik 2,8 persen dari tahun ke tahun menjadi 19,47 triliun yuan, menyumbang 46,6 persen dari total perdagangan luar negeri negara tersebut, tertinggi dalam hal skala dan proporsi sejak prakarsa tersebut diusulkan," kata Wang.
Jalur transportasi internasional terus mendorong pertumbuhan perdagangan antara Tiongkok dan mitra Sabuk dan Jalan, termasuk Kereta Api Ekspres Tiongkok-Eropa, Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru (jalur perdagangan dan logistik yang menghubungkan Tiongkok bagian barat dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara), dan Kereta Api Tiongkok-Laos pada khususnya.
"Pada tahun 2023, kereta barang Tiongkok-Eropa menyelesaikan 17.000 perjalanan dan mengirimkan 1,9 juta kontainer barang berkapasitas dua puluh kaki (TEU), masing-masing meningkat 6 persen dan 18 persen dari tahun ke tahun. Kereta barang Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru mengangkut 860.000 TEU kontainer barang, naik 14 persen dari tahun ke tahun. Kantor bea cukai Kereta Api Tiongkok-Laos mengawasi dan memeriksa 4,218 juta ton barang, naik 94,9 persen," kata Wang.
Wang mengatakan pada tahun 2023, kontrak proyek luar negeri Tiongkok dengan negara-negara mitra BRI bernilai 86,1 miliar yuan (sekitar 188,5 triliun rupiah), naik hampir 30 persen dari tahun 2022, meningkatkan sektor konektivitas dan manufaktur.
Menurut data yang dirilis Oktober lalu oleh administrasi bea cukai Tiongkok, indeks yang melacak perdagangan antara Tiongkok dan negara-negara mitra BRI tumbuh menjadi 165,4 pada tahun 2022 dari patokan 100 pada tahun 2013. Itu menunjukkan peran kerja sama BRI yang semakin meningkat dalam memfasilitasi perdagangan.