JAKARTA, Radio Bharata Online - Serangan terhadap mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump Sabtu lalu, kemungkinan akan mengubah pemilihan presiden AS tahun ini, sementara warga AS khawatir akan meningkatnya kekerasan politik.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengaku sangat terkejut dengan serangan itu.

Perdana Menteri Slovakia Robert Fico, yang selamat dari upaya pembunuhan pada bulan Mei, mengutuk penembakan tersebut melalui postingan di Facebook.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menulis di platform X, bahwa penembakan Trump "adalah pengingat akan bahaya ekstremisme politik dan intoleransi".

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan: "Kita harus berdiri teguh melawan segala bentuk kekerasan."

Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran yang sudah lama ada, bahwa kekerasan politik dapat terjadi selama kampanye presiden dan setelah pemilu.

Kekhawatiran ini sebagian mencerminkan polarisasi para pemilih, dimana negara tersebut terlihat terpecah menjadi dua kubu, dengan visi politik dan sosial yang sangat berbeda.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters baru baru ini, warga AS kini khawatir akan meningkatnya kekerasan politik, dimana dua dari tiga responden yang disurvei pada bulan Mei mengatakan, mereka khawatir kekerasan dapat terjadi setelah pemilu.

Beberapa sekutu Trump dari Partai Republik juga mengatakan, mereka yakin serangan itu bermotif politik. (China Daily)