Bharata Online - Bagaimana mungkin sebuah komunitas yang leluhurnya datang dari negeri yang berjarak ribuan kilometer dari Nusantara, yang awalnya datang sebagai pedagang, perantau, pekerja, bahkan pengungsi, justru hari ini telah menjadi bagian yang begitu melekat dalam perjalanan Indonesia?
Mereka yang kini dikenal sebagai Tionghoa perantauan, yang datang di Indonesia dalam gelombang yang berbeda, membawa bahasa, adat istiadat, keyakinan, dan tradisi dari Tiongkok, tetapi ketika menetap di Nusantara, mereka tidak hidup di ruang yang terpisah.
Mereka menikah dengan masyarakat lokal, mempelajari bahasa setempat, menyesuaikan makanan, kesenian, pakaian, hingga tradisi keagamaan, dan perlahan melahirkan identitas baru yang kita kenal sebagai masyarakat Tionghoa Indonesia.
Menariknya, di tengah proses asimilasi, perubahan politik, bahkan berbagai tekanan dan sentimen anti-Tionghoa yang pernah terjadi, warisan leluhur itu ternyata tidak benar-benar hilang. Justru sebagian di antaranya melebur menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia, sementara sebagian lainnya tetap dipertahankan dari generasi ke generasi.
Lalu, sebenarnya sejak kapan mereka datang, berapa banyak yang datang, dari suku mana saja, bagaimana mereka bisa bertahan selama ratusan tahun, dan sejauh mana kontribusi mereka terhadap perjalanan bangsa Indonesia?
Kalau kita berbicara tentang masyarakat Tionghoa di Indonesia, sebenarnya kita sedang membicarakan sebuah perjalanan sejarah yang sangat panjang. Mereka bukan baru hadir di Indonesia dalam beberapa puluh tahun terakhir. Jejak kedatangan masyarakat Tiongkok ke Nusantara sudah berlangsung selama berabad-abad, bahkan sejak sekitar abad ke-5.
Pada awalnya, kedatangan mereka terutama melalui jalur perdagangan dan pelayaran. Kapal-kapal dari Tiongkok datang mengikuti angin muson menuju pusat-pusat perdagangan seperti Sumatra dan Jawa. Jumlah mereka ketika itu relatif kecil, diperkirakan hanya ratusan hingga beberapa ribu orang per abad.
Namun sebagian pedagang dan pelaut tersebut tidak kembali ke Tiongkok. Mereka menetap, menikah dengan perempuan lokal, dan membangun keluarga. Dari sinilah mulai terbentuk komunitas Peranakan yang kemudian berkembang menjadi bagian dari masyarakat Nusantara.
Gelombang kedua jauh lebih besar. Pada masa kolonial Belanda, terutama sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, orang-orang dari Tiongkok Selatan, khususnya Fujian dan Guangdong, datang dalam jumlah besar. Mereka banyak didatangkan sebagai buruh kontrak untuk bekerja di tambang timah Bangka-Belitung, tambang emas, perkebunan, dan berbagai sektor ekonomi kolonial.
Pada puncak migrasi, jumlah kedatangan bisa mencapai puluhan ribu hingga ratusan ribu orang dalam periode tertentu. Besarnya migrasi tersebut terlihat jelas dalam sensus kolonial tahun 1930. Volkstelling mencatat sekitar 1,2 juta penduduk Tionghoa di Hindia Belanda, atau sekitar 2,03 persen dari populasi pada masa itu.
Gelombang ketiga berlangsung sekitar 1940-an hingga 1950-an. Perang Dunia II, perang saudara di Tiongkok, dan perubahan politik setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok menyebabkan puluhan ribu orang berpindah dan sebagian datang ke Indonesia. Berbeda dengan gelombang sebelumnya yang banyak didominasi laki-laki, gelombang ini juga membawa keluarga.
Kemudian sejak abad ke-21 muncul gelombang keempat. Karakternya berbeda lagi karena mereka datang sebagai investor, pengusaha, profesional, teknisi, pekerja terampil, ekspatriat, dan mahasiswa. Jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan ribu lebih pekerja legal musiman yang keluar-masuk Indonesia, tetapi sebagian besar merupakan penduduk sementara bukan imigran permanen.
Data pada tahun 2024 mencatat, bahwa kini Indonesia menjadi rumah bagi 11,26 juta diaspora Tionghoa dan itu yang terbesar di dunia di luar Tiongkok dan jauh di atas Thailand serta Malaysia apalagi Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
Dari berbagai gelombang tersebut, muncul berbagai kelompok sub-etnis. Ada Hokkian atau Min Selatan dari Fujian bagian selatan, Hakka atau Khek dari wilayah Guangdong dan Fujian, Tiochiu dari kawasan Chaoshan, Kanton dari Guangzhou dan Delta Sungai Mutiara, Hainan dari Pulau Hainan, serta Hokchia atau Fuzhou dari Fujian bagian utara.
Mereka datang membawa bahasa dan tradisi masing-masing. Tetapi setelah menetap di Nusantara selama beberapa generasi, mereka mengalami perubahan yang sangat besar. Lalu bagaimana mereka bisa bertahan? Jawaban paling pentingnya adalah kemampuan beradaptasi.
Generasi awal masyarakat Tionghoa di Nusantara tidak hidup dalam ruang tertutup. Mereka berinteraksi dengan masyarakat lokal melalui perdagangan, perkawinan, lingkungan tempat tinggal, dan kehidupan sosial.
Mereka belajar bahasa setempat dan menikah dengan masyarakat lokal. Mereka mengonsumsi makanan lokal dan mengikuti adat setempat. Anak-anak mereka lahir dan tumbuh di Nusantara dan dari sinilah terbentuk masyarakat Peranakan.
Peranakan merupakan contoh bagaimana sebuah komunitas pendatang dapat menciptakan identitas baru setelah hidup selama beberapa generasi di lingkungan yang berbeda. Unsur Tionghoa tetap ada, tetapi telah bercampur dengan unsur Jawa, Melayu, Sunda, Betawi, Palembang, dan berbagai budaya Nusantara lainnya.
Menariknya, proses tersebut tidak hanya mengubah masyarakat Tionghoa melainkan masyarakat Nusantara juga ikut berubah. Bahasa adalah salah satu contohnya, sejumlah kata yang memiliki akar dari bahasa Tionghoa masuk ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, sehingga kita mengenal kata seperti toko, kongsi, tahu, kecap, bakmi, bihun, tauco, dan berbagai istilah lainnya.
Sebaliknya, masyarakat Tionghoa yang telah menetap lama juga menyerap bahasa lokal. Banyak keluarga Peranakan akhirnya tidak lagi menggunakan bahasa leluhur sebagai bahasa utama melainkan telah menggunakan bahasa Melayu, Jawa, Sunda, atau bahasa daerah tempat mereka tinggal.
Jadi prosesnya bukan sekadar orang Tionghoa membawa budaya ke Indonesia melainkan mereka juga mengalami proses Indonesiasi melalui lingkungan tempat mereka hidup.
Hal yang sama juga terjadi pada makanan, lumpia Semarang menjadi salah satu contoh terkenal. Kuliner yang memiliki akar Tionghoa ini bertemu dengan bahan dan selera lokal. Bakso, bakmi, siomay, tahu, bihun, kecap, dan tauco juga berkembang menjadi bagian dari kehidupan kuliner Indonesia.
Bahkan bentuk makanan dapat berubah mengikuti lingkungan sosial dan agama masyarakat Indonesia. Inilah yang disebut akulturasi, ketika dua kebudayaan bertemu, saling memengaruhi, kemudian melahirkan bentuk baru.
Dalam seni, contohnya bahkan lebih menarik seperti Gambang Kromong di Betawi memadukan alat musik seperti tehyan, kongahyan, dan sukong dengan instrumen lokal. Batik pesisiran di Lasem dan Pekalongan juga menunjukkan pertemuan estetika Tionghoa dengan tradisi batik Nusantara.
Artinya, masyarakat Tionghoa bukan hanya mempertahankan budaya mereka sendiri melainkan mereka juga ikut menciptakan kebudayaan Indonesia. Namun di sinilah muncul pertanyaan yang menarik, kalau mereka telah begitu lama berasimilasi, mengapa budaya leluhur mereka tidak hilang?
Mengapa setelah ratusan tahun masih ada keluarga yang merayakan Imlek, Cap Go Meh, melakukan Ceng Beng, menjalankan tradisi Sangjit, mempertahankan marga, dan menghormati leluhur? Salah satu jawabannya adalah keluarga.
Keluarga menjadi benteng utama pelestarian budaya. Nilai seperti bakti kepada orang tua, penghormatan kepada leluhur, kerja keras, pendidikan, keharmonisan, dan menjaga nama baik keluarga diwariskan dari generasi ke generasi.
Bahkan ketika bahasa leluhur mulai hilang, nilai-nilai tersebut tetap bertahan. Seorang anak mungkin tidak lagi fasih berbahasa Hokkian atau Hakka, tetapi dia tetap mengetahui siapa leluhurnya dan mengapa keluarganya melakukan tradisi tertentu.
Dengan kata lain, identitas budaya tidak selalu bergantung pada kemampuan berbahasa. Tetapi masalahnya perjalanan mempertahankan identitas ini tidak selalu mudah.
Masyarakat Tionghoa Indonesia pernah mengalami diskriminasi dan sentimen anti-Tionghoa dalam berbagai periode sejarah. Pada masa kolonial, mereka ditempatkan dalam kategori rasial tertentu. Pada masa Orde Baru, ekspresi kebudayaan Tionghoa di ruang publik juga mengalami pembatasan.
Bahasa Mandarin dibatasi, nama Tionghoa banyak diganti, dan perayaan budaya tidak dapat dilakukan secara terbuka. Namun menariknya, budaya tersebut tidak hilang. Ketika ruang publik tertutup, budaya berpindah ke ruang keluarga.
Imlek dirayakan di rumah, bahasa diajarkan secara terbatas kepada anak, makanan tradisional tetap dibuat, marga tetap dicatat dalam silsilah keluarga, dan tradisi penghormatan leluhur tetap dilakukan. Artinya, tekanan politik justru membuat sebagian tradisi bertahan melalui jalur yang lebih informal.
Setelah Reformasi, keadaan berubah. Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi salah satu tokoh penting dalam membuka kembali ruang kebudayaan Tionghoa. Berbagai pembatasan mulai dicabut, makanya imlek kembali dirayakan secara terbuka dan Khonghucu memperoleh pengakuan yang lebih kuat dalam kehidupan beragama di Indonesia.
Setelah itu, budaya Tionghoa kembali terlihat di ruang publik. Barongsai tampil di berbagai kota, imlek menjadi bagian dari kalender nasional, Klenteng dan komunitas budaya kembali aktif, serta bahasa Mandarin kembali dipelajari.
Tetapi tantangan generasi sekarang berbeda. Kalau dahulu ancamannya adalah diskriminasi dan pembatasan pemerintah, sekarang tantangannya adalah globalisasi dan perubahan gaya hidup. Anak muda hidup dalam dunia digital, mereka menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris.
Mereka juga berinteraksi dengan budaya Korea, Jepang, Amerika, Eropa, dan berbagai budaya global lainnya. Lalu bagaimana budaya leluhur bisa tetap bertahan? Sekali lagi, jawabannya adalah adaptasi.
Kini bahasa Mandarin diajarkan melalui aplikasi, YouTube, TikTok, kelas daring, dan sekolah. Tradisi Imlek dikemas dengan cara yang lebih modern. Sangjit dan berbagai ritual keluarga juga disesuaikan dengan gaya hidup generasi muda.
Komunitas Tionghoa memanfaatkan media sosial untuk menjelaskan sejarah, filosofi, dan makna tradisi. Jadi generasi muda tidak hanya diberitahu bahwa mereka harus melakukan sebuah tradisi, tetapi juga dijelaskan mengapa tradisi itu penting.
Sekolah juga berperan. Di berbagai kota besar, bahasa Mandarin diajarkan di sekolah nasional maupun internasional. Sekolah seperti Tzu Chi dan Bina Bangsa menjadi contoh bagaimana bahasa Mandarin dapat dipelajari berdampingan dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Menariknya, bahasa Mandarin sekarang tidak hanya dipandang sebagai bahasa leluhur. Ia juga menjadi aset ekonomi. Kemampuan berbahasa Mandarin dapat membuka peluang pendidikan, bisnis, perdagangan, diplomasi, dan pekerjaan internasional.
Dengan demikian, generasi muda mempunyai alasan baru untuk mempertahankan bahasa leluhur mereka. Bukan hanya karena tradisi, tetapi juga karena relevansi masa depan.
Dan ketika kita berbicara tentang kontribusi masyarakat Tionghoa terhadap Indonesia, kontribusinya jelas jauh lebih luas daripada sekadar perdagangan.
Dalam dunia ekonomi, kita mengenal Robert Budi Hartono dan Michael Hartono melalui Djarum Group dan BCA. Ada Anthony Salim melalui Salim Group dan Indofood. Ada Prajogo Pangestu yang memiliki peran besar dalam industri energi dan petrokimia.
Di dunia olahraga, ada Susy Susanti dan Alan Budikusuma yang memenangkan emas Olimpiade pertama Indonesia. Kemudian ada Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon, Jonatan Christie, dan masih banyak lainnya.
Di bidang seni dan hiburan, Agnez Mo, Joe Taslim, dan Ernest Prakasa menunjukkan bagaimana orang Indonesia keturunan Tionghoa ikut membawa nama Indonesia ke industri kreatif yang lebih luas baik secara nasional maupun internasional.
Di sektor teknologi, William Tanuwijaya melalui Tokopedia ikut membentuk ekonomi digital Indonesia, sementara Anderson Sumarli melalui Ajaib memperluas akses investasi bagi generasi muda.
Di bidang sosial dan pendidikan, ada Dato' Sri Tahir melalui aktivitas filantropinya sementara anaknya Grace Tahir melalui berbagai kegiatan edukasi dan sosial.
Dan ada pula kisah yang mungkin belum terlalu banyak diketahui masyarakat Indonesia, yaitu Andy Qiu Liefeng. Penyiar asal Indonesia ini berhasil memecahkan rekor sebagai orang Indonesia pertama yang pernah memenangkan penghargaan penyiaran radio berbahasa Mandarin di Tiongkok.
Ia memenangkan penghargaan tingkat nasional melalui karya bertajuk "Kereta Cepat Tiongkok Menuju Global" dan pada tahun 2025 meraih Juara Pertama Karya Unggulan Penyiaran Radio, Televisi, dan Audiovisual Internet Provinsi Guangxi melalui karya "Nada Membuat Persahabatan Terdengar".
Semua contoh tersebut menunjukkan satu hal penting, bahwasanya masyarakat Tionghoa Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari sejarah ekonomi Indonesia. Mereka juga hadir dalam politik, pendidikan, olahraga, seni, teknologi, sains, media, dan kegiatan sosial.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita melihat sejarah masyarakat Tionghoa Indonesia bukan hanya dari pertanyaan "dari mana mereka berasal?" Pertanyaan yang lebih penting adalah "apa yang telah mereka berikan kepada Indonesia?" Dan jawabannya sangat panjang.
Mereka membawa tradisi, tetapi tradisi itu kemudian beradaptasi dengan Nusantara. Mereka membawa bahasa, tetapi kemudian bahasa itu bercampur dengan bahasa lokal. Mereka membawa makanan, tetapi makanan itu berubah menjadi makanan Indonesia.
Mereka membawa keterampilan perdagangan, tetapi keterampilan itu kemudian menjadi bagian dari perkembangan ekonomi Nusantara. Pada saat yang sama, mereka juga mempertahankan nilai leluhur melalui keluarga, komunitas, agama, pendidikan, dan kini teknologi. Inilah yang membuat masyarakat Tionghoa Indonesia memiliki karakter yang unik.
Mereka dapat mempertahankan akar leluhur tanpa harus meninggalkan Indonesia. Mereka dapat merayakan Imlek tanpa mengurangi rasa kebangsaan sebagai orang Indonesia. Mereka dapat menggunakan bahasa Mandarin sekaligus bahasa Indonesia. Mereka dapat mempertahankan nama keluarga dan tradisi leluhur, tetapi tetap tumbuh sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Dan yang paling penting, generasi demi generasi telah menunjukkan bahwa identitas etnis dan identitas kebangsaan tidak harus dipertentangkan. Seseorang dapat memiliki darah, sejarah, atau leluhur Tionghoa, tetapi sepenuhnya menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
Pada akhirnya, perjalanan masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah perjalanan dari migrasi menuju integrasi, dari perjumpaan budaya menuju akulturasi, dan dari identitas yang beragam menuju satu kehidupan kebangsaan.
Mereka datang melalui kapal-kapal perdagangan, menetap di kota-kota pelabuhan, membangun keluarga, bekerja di tambang dan perkebunan, melewati masa kolonial, menghadapi berbagai gejolak politik, mempertahankan budaya di tengah tekanan, lalu bangkit kembali di era Reformasi.
Dan setelah ratusan tahun, mereka bukan lagi sekadar orang Tiongkok yang tinggal di Nusantara. Mereka adalah orang Indonesia yang memiliki akar sejarah Tionghoa. Sementara kebudayaan yang lahir dari pertemuan keduanya telah menjadi bagian dari wajah Indonesia itu sendiri.
Karena pada akhirnya, Indonesia memang dibangun dari banyak akar. Dan kekuatan Indonesia justru terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai akar tersebut menjadi satu pohon besar bernama Indonesia.