BEIJING, Radio Bharata Online - Beras hibrida yang dikembangkan sendiri oleh Tiongkok, tidak hanya memberi makan sekitar 80 juta orang Tiongkok, tetapi juga 40 hingga 50 juta orang di luar negeri.
Sebuah seminar digelar untuk memperingati 50 tahun keberhasilan penelitian galur padi hibrida, yang dilakukan oleh tim ilmuwan Tiongkok dibawah kepemimpinan Yuan Longping, yang dikenal sebagai “bapak padi hibrida.”
Bai Lianyang, seorang akademisi di Akademi Teknik Tiongkok dan pejabat dari Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian Provinsi Hunan, mengatakan, padi hibrida telah ditanam di lahan seluas 600 juta hektar di seluruh negeri, sehingga menghasilkan peningkatan hasil padi 800 juta metrik ton lebih banyak.
Hasil rata-rata padi super hibrida juga terus meningkat dari 10,5 metrik ton per hektar, menjadi 16,5 ton dari tahun 2000 hingga 2017.
Bai mengatakan, setiap tahun lebih dari 17 juta hektar padi hibrida ditanam di Tiongkok, sehingga membantu meningkatkan produksi beras sekitar 2,5 juta ton, dan memberi makan 80 juta orang di negara tersebut setiap tahunnya.
Teknologi padi hibrida juga telah diperkenalkan ke puluhan negara di dunia, dan berperan aktif dalam mendorong ketahanan pangan dunia.
Dengan total luas budidaya padi hibrida di luar negeri yang mencapai hampir 8 juta hektar per tahun, padi tersebut telah memberi makan 40 hingga 50 juta orang di luar negeri.
Shen Xiaoming, sekretaris Partai Komunis Tiongkok di provinsi Hunan, mengatakan, kerja sama internasional seputar padi hibrida akan diperdalam, dan platform komunikasi internasional akan dibangun untuk mengeksplorasi model kerja sama yang lebih terbuka dan efektif.
Semakin banyak negara dan wilayah yang memperoleh pengetahuan tentang padi hibrida, dan menanamnya, sehingga padi tersebut dapat membawa lebih banyak manfaat bagi dunia. (China Daily)