BEIJING, Radio Bharata Online - Pakar keluarga berencana Wang Pei'an menilai Tiongkok harus meningkatkan insentif kepada orang-orang yang ingin berkeluarga dan meningkatkan angka kelahiran, karena jumlah penduduk saat ini menurun sehingga bisa mengancam negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu.

Tahun lalu, jumlah penduduk Tiongkok daratan menurun 850.000 yang merupakan pertama sejak 1961 sehingga total penduduk menjadi 1,42 miliar. Angka ini berpotensi tersalip oleh India, yang saat ini negara berpenduduk terbanyak kedua di dunia.

Penurunan ini kemungkinan berlanjut sehingga menimbulkan dampak besar terhadap perekonomian mereka dan dunia.

Wang Pei'an, Wakil Direktur Asosiasi Keluarga Berencana Tiongkok, mengatakan Sabtu (11/2), bahwa pemerintah harus memberikan insentif pajak lebih banyak lagi demi mendorong kelahiran.

Berbicara dalam Forum Tiongkok dan Pembangunan yang ketiga di Beijing, Wang menyebut kecenderungan ini akibat generasi muda yang enggan memiliki anak. Menurut Wang, insentif seputar pekerjaan, perawatan medis, jaminan sosial, dan perumahan yang semakin besar, bisa mendorong orang untuk membangun rumah tangga.

Pemerintah pernah memberlakukan kebijakan satu anak antara 1980 dan 2015, tetapi akibat jumlah penduduk yang menurun, pihak berwenang kini justru berusaha keras sebaliknya dengan memacu angka kelahiran.

Para pejabat kesehatan mengungkapkan faktor penyebab kaum muda enggan memiliki anak, adalah mengkhawatirkan pengeluaran ekonomi, sementara wanita muda lebih fokus kepada karier.

Menurut CCTV, usia rata-rata seorang wanita menikah naik dari usia 22 tahun pada 1980-an menjadi 26,3 tahun pada 2020, dan usia melahirkan anak pertama ditunda menjadi 27,2 tahun.

Wang menunjuk hasil survei tahun 2021 yang dibuat Pusat Penelitian Kependudukan dan Pembangunan Tiongkok, yang mengungkapkan bahwa kurang dari 70 persen wanita di bawah usia 35 tahun, beranggapan hidup akan lengkap jika hanya memiliki satu anak. (Zawya.com)