Radio Bharata Online - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning memimpin jumpa pers rutin Jumat hari ini (28/4). Besok bertepatan dengan peringatan 26 tahun berlakunya Konvensi Senjata Kimia (CWC). Menangani senjata kimia yang ditinggalkan Jepang di Tiongkok adalah tugas penting dalam kerangka Konvensi Senjata Kimia. Seorang wartawan meminta Mao Ning untuk memperkenalkan kemajuan terbaru dalam penanganan senjata kimia yang ditinggalkan Jepang dan tuntutan Tiongkok terhadap hal tersebut.

Mao Ning mengatakan, senjata kimia yang ditinggalkan Jepang di Tiongkok adalah masalah sejarah utama antara Tiongkok dan Jepang, juga adalah tugas penting untuk mengimplementasikan Konvensi Senjata Kimia. Tiongkok telah mendesak Jepang untuk menghancurkan senjata kimia yang ditinggalkannya di Tiongkok sedini mungkin secara bersih dan menyeluruh sesuai dengan CWC dan memorandum antara pemerintah Tiongkok dan Jepang. Karena Jepang gagal menyelesaikan penghancuran senjata kimianya dalam batas waktu yang ditentukan, maka Dewan Eksekutif ke-101 OPCW meninjau dan menyetujui rencana penghancuran setelah tahun 2022 yang diajukan oleh Tiongkok dan Jepang, serta menetapkan bahwa Jepang harus menyelesaikan penghancuran senjata kimianya di daerah Ha'erbaling, bagian timur laut Tiongkok pada tahun 2027. Pihak Jepang juga diminta memberikan solusi untuk masalah yang penting dan sulit seperti meningkatkan efisiensi operasi di situs pemakaman berskala besar serta memberikan informasi dan petunjuk yang efektif. 

Mao Ning menunjukkan bahwa menghilangkan senjata kimia yang ditinggalkannya adalah tanggung jawab sejarah, politik, dan hukum Jepang yang tidak dapat disangkal.