BEIJING, Radio Bharata Online - Kontrol kekerasan senjata dapat menjadi tolok ukur penting bagi masyarakat internasional untuk mengukur demokrasi dan hak asasi manusia di Amerika Serikat.
Hal ini diungkapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning pada konferensi pers di Beijing, Senin (10/10/2022).
Mao membuat pernyataan itu sebagai tanggapan atas laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, yang mengungkapkan bahwa pembunuhan dan bunuh diri terkait senjata naik sebesar 8 persen dan lebih banyak lagi di Amerika Serikat dari tahun 2020 hingga 2021.
Angka itu merupakan kenaikan tertinggi sejak tahun 1990-an.
Terkait hal tersebut, Mao mengatakan laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS sebelumnya juga pernah menunjukkan bahwa orang Afrika-Amerika 12 kali lebih mungkin ditembak dan dibunuh daripada orang kulit putih. Hal itu menunjukkan diskriminasi rasial institusional ditambah dengan kekerasan senjata kerap membuat kaum minoritas menjadi korban.
"Hak untuk hidup adalah hak asasi manusia yang paling penting. Apakah kekerasan senjata dapat dikendalikan secara efektif dan hak-hak minoritas dilindungi dengan sungguh-sungguh adalah tolok ukur penting bagi masyarakat internasional untuk mengukur demokrasi dan hak asasi manusia di AS," kata Mao.
Editor: Thomas Rizal