Beijing, Radio Bharata Online - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mengubah dunia pendidikan, termasuk universitas di Tiongkok. Kecerdasan buatan ini bahkan membentuk ulang masa depan mahasiswa seni.

Dalam arkeologi, AI telah menjadi asisten yang mumpuni, membantu para peneliti menemukan informasi yang diperlukan dengan cepat dan efisien.

Pola-pola pada barang antik menceritakan sebuah kisah. Evolusi pola-pola ini dapat memberikan wawasan tentang penyebaran budaya melintasi waktu dan tempat.

Sebelumnya, para arkeolog mungkin menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk mencocokkan hasil evolusi dengan pola-pola tertentu. Sekarang, hasilnya bisa dibilang langsung, semua ada di ujung jari mereka.

AI telah diterapkan dalam penelitian arkeologi selama bertahun-tahun, tetapi sekarang menjadi lebih mudah diakses oleh mahasiswa dan peneliti pemula.

"Penerapan AI dalam arkeologi masih dalam tahap awal. Kami perlu melakukan beberapa eksplorasi untuk membentuk konten yang sistematis untuk kelas," kata Zhang Hai, Presiden Sekolah Arkeologi dan Museologi di Universitas Peking.

Penerapan teknologi AI yang meluas di berbagai industri telah menimbulkan pertanyaan filosofis yang mendalam dan menimbulkan masalah etika yang serius.

Mata kuliah interdisipliner baru diharapkan dapat dibuka antara filsafat dan mata pelajaran lain, mengintegrasikan etika AI ke dalam kurikulum.

Integrasi AI di berbagai sektor menciptakan peluang baru bagi jurusan filsafat, terutama di bidang etika AI.

"Kita perlu belajar bagaimana mengintegrasikan teknologi baru ini. Artinya, bagaimana mengembangkannya sedemikian rupa sehingga tidak berbahaya bagi masyarakat. Kita juga perlu mengedukasi diri kita sendiri bagaimana cara bertindak dan berinteraksi terkait hal tersebut. Dunia baru media sosial memang merupakan salah satu medan perang seperti yang sering digambarkan di mana kita berinteraksi dengan AI dan berdasarkan AI. Jadi, ini adalah area di mana lulusan filsafat dapat lebih memiliki harapan untuk mendapatkan peluang kerja di masa depan," kata Sebastian Sunday Greve, Asisten Profesor di Departemen Filsafat Universitas Peking.

Penggunaan kecerdasan buatan mirip dengan penerimaan komputer beberapa dekade yang lalu. Penting bagi sekolah untuk membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia masa depan yang dibentuk ulang oleh teknologi ini.