MOSKOW, Radio Bharata Online - Presiden Vladimir Putin meraih kemenangan telak, dalam pemilu Rusia pada hari Minggu (17/3). Dengan kemenangan ini berarti Putin akan memulai masa jabatan enam tahun berikutnya.
Putin meraih 87,8 persen suara, yang merupakan hasil tertinggi dalam sejarah Rusia pasca-Soviet.
Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga jajak pendapat Public Opinion Foundation, Pusat Penelitian Opini Publik Rusia menempatkan Putin pada 87 persen. Hasil resmi pertama menunjukkan bahwa jajak pendapat tersebut akurat.
Guru besar Pemerintahan dan Hubungan Internasional Universitas Sidney, Graeme Gill, mengatakan, meskipun kemenangan Putin tidak pernah diragukan, tingginya tingkat dukungan dan jumlah pemilih cukup mengejutkan.
Menurutnya, hal ini jelas mencerminkan upaya untuk menampilkan pemilu sebagai kemenangan besar bagi Putin, baik secara pribadi maupun kebijakannya, terutama perang di Ukraina.
Prof Gill mencatat bahwa sebagian besar negara-negara Selatan, yang mencakup negara-negara di Karibia, Amerika Latin dan Afrika, kurang mendukung Barat dalam hal Ukraina, dan lebih cenderung memihak, atau tanpa ragu membiarkan tindakan Rusia. Tetapi menurut Gill, tentu saja pesan tersebut tidak akan diterima oleh negara-negara Barat dan bagi kebanyakan pengamat.
Amerika Serikat, Jerman, Inggris dan negara-negara Barat lain mengatakan, pemungutan suara tersebut tidak bebas dan tidak adil, karena pemenjaraan lawan politik dan sensor. Menurut negara-negara itu, hal ini bertujuan untuk mengkonsolidasikan pandangan, bahwa Putin adalah pemimpin populer di Rusia, dan hal ini penting bagi negara-negara yang tidak mendukung posisi Barat terhadap Ukraina.
Kepada para pendukungnya, Putin mengatakan dalam pidato kemenangan di Moskow, bahwa ia akan memprioritaskan penyelesaian tugas-tugas yang terkait dengan apa yang ia sebut sebagai "operasi militer khusus" Rusia di Ukraina, dan akan memperkuat militer Rusia. (CNA)