Guangzhou, Radio Bharata Online - Lantaran panas terik yang terus berlanjut di sebagian besar wilayah Tiongkok, banyak kota beralih ke sistem pendingin terpusat ketimbang AC untuk mendinginkan ruang publik sekaligus memangkas biaya energi.
Sebuah perpustakaan di kota Guangzhou bagian selatan adalah salah satu penerima manfaat terbaru dari District Cooling System (DCS), sebuah sistem pendingin terpusat yang mendistribusikan kapasitas pendinginan dalam bentuk air dingin.
Staf dari perpustakaan mengatakan bahwa membludaknya pembaca selama liburan musim panas selalu menjadi tantangan besar bagi kapasitas pendinginan mereka dan pengenalan sistem baru ini membantu mereka memangkas biaya.
"Jauh lebih murah untuk membeli air dingin daripada memasang unit AC sendiri. Sistem ini juga mengkonsumsi lebih sedikit listrik," kata Huang Zhenxiong, Kepala Departemen Manajemen Aset dan Properti di Perpustakaan Guangzhou.
Air dingin berasal dari stasiun pendingin di dekatnya di mana operatornya menggunakan listrik untuk membuat es yang kemudian dilelehkan, disimpan di kolam, dan dipompa kembali ke dalam sistem.
"Kami akan membuat es pada malam hari dengan harga listrik di luar jam puncak. Ketika permintaan meningkat di siang hari, aliran air panas dapat mencairkan es dan menghasilkan air dingin, yang akan dipompa kembali ke sistem pendingin klien," ujar Teng Ling, manajer perusahaan energi baru.
Teng mengatakan bahwa layanan mereka sekarang mencakup area bangunan seluas 20 juta meter persegi. Selain Guangzhou, banyak kota lain di Tiongkok juga sedang menjajaki sistem pendingin terpusat, yang menurut para ahli, lebih hemat biaya dan hemat energi.
Untuk saat ini, sistem tersebut bekerja paling baik untuk bangunan industri dan komersial, namun belum cocok untuk keperluan perumahan. Menurut data dari perusahaan riset Global Market Insights, pasar pemanas dan pendingin global dapat mencapai 1.400 miliar dolar AS (sekitar 21 triliun rupiah) pada tahun 2027.