CHONGQING, Radio Bharata Online - Sektor pariwisata Tiongkok akan kembali bergairah untuk liburan May Day, dalam lebih dari tiga tahun terakhir, yang telah dibuktikan dengan lonjakan pemesanan, dengan lebih dari 240 juta perjalanan.
Konsumsi akan terus meningkat di tengah booming perjalanan, dan diperkirakan akan menyumbang lebih dari 120 miliar yuan ($17,35 miliar).
China Media Group melaporkan, libur May Day kali ini menandai libur panjang pertama di Tiongkok setelah Tahun Baru Imlek, pasca negara tersebut mendeklarasikan kemenangan dalam penanggulangan COVID-19.
Seiring dengan pulihnya perekonomian terbesar kedua di dunia ini, para ahli memperkirakan momentum yang kuat akan terus berlanjut hingga tahun 2023, yang dimungkinkan oleh dukungan kebijakan yang ditingkatkan, dengan target untuk meningkatkan konsumsi domestik.
Libur May Day tahun ini akan jatuh pada hari Sabtu, berlangsung hingga 3 Mei. Berdasarkan data dari China Railway pada hari Kamis, sistem kereta api Tiongkok akan mengatur 120 juta perjalanan penumpang dari hari Kamis hingga 4 Mei, meningkat 20 persen dari tahun 2019, dan merupakan level tertinggi dalam sejarah.
Sekitar 69,08 juta tiket kereta api telah terjual hingga Kamis pukul 8 pagi. Sekitar 53,3 juta hingga 54,3 juta kendaraan diperkirakan akan melintasi jalan raya Tiongkok setiap hari selama liburan.
Menurut laporan layanan perjalanan online Trip.com kepada Global Times, pencarian penerbangan domestik untuk liburan May Day telah melonjak lebih dari 290 persen, dan pulih 110 persen dibandingkan dengan tahun 2019. Sementara pencarian akomodasi melebihi lebih dari sembilan kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu, dan melonjak hampir 200 persen dengan tahun 2019.
Di tengah potensi konsumsi yang besar, berbagai festival dan acara belanja akan diselenggarakan selama liburan. Kementerian Perdagangan bersama dengan Kementerian Luar Negeri dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya, akan menyelenggarakan sebuah festival belanja online dari hari Jumat sampai 12 Mei, dengan fokus pada promosi produk-produk dari Asia Tengah dan anggota-anggota ASEAN. (Global Times)