BEIJING, Radio Bharata Online - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin pada hari Rabu (21/9/2022) mendesak pihak Amerika Serikat untuk berhenti mempersulit dan menekan perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Pada hari Selasa (21/9/2022), Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) menyebut perusahaan telekomunikasi Tiongkok, China Unicom dan Pacific Networks Corp serta anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki ComNet sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS.

Nasib serupa juga dialami perusahaan teknologi Tiongkok, Huawei beberapa waktu lalu. Selain Huawei, pada Maret 2021, FCC juga memasukkan ZTE Corp, Hytera Communications Corp, Hangzhou Hikvision Digital Technology, dan Zhejiang Dahua Technology Co masuk dalam daftar yang disebut "Covered List" itu.

Menurut FCC, perusahaan-perusahaan tersebut tunduk pada eksploitasi, pengaruh dan kontrol pemerintah Tiongkok. Mereka khawatir perusahaan-perusahaan tersebut akan dipaksa memenuhi permintaan pemerintah Tiongkok untuk melakukan penyadapan.

Terkait keputusan FCC, Wang mengatakan Tiongkok dengan tegas menolak langkah tersebut dan akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menegakkan hak dan kepentingan sah perusahaan Tiongkok.

"Ini adalah contoh lain dari AS yang melebih-lebihkan konsep keamanan nasional dan menyalahgunakan kekuasaan negara untuk menekan perusahaan-perusahaan Tiongkok," kata Wang, dalam konferensi pers di Beijing.

Wang menambahkan, apa yang dilakukan AS melanggar aturan ekonomi pasar, merusak tatanan ekonomi dan perdagangan internasional, dan secara serius merugikan kepentingan perusahaan-perusahaan Tiongkok.

"Tiongkok dengan tegas menolak ini. Kami mendesak pihak AS untuk segera mengubah tindakannya yang salah dan berhenti mempersulit dan menekan perusahaan-perusahaan Tiongkok. Kami akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk secara tegas menegakkan hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan Tiongkok," tandas Wang.