BEIJING, Radio Bharata Online - Beijing mengeluarkan peringatan merah untuk suhu tinggi pada hari Kamis, merupakan yang tertinggi dalam sistem peringatan berkode warna. Suhu di sebagian besar kota diperkirakan akan meningkat di atas 40 derajat Celcius. Ini adalah peringatan merah kedua untuk suhu tinggi, yang dikeluarkan oleh Otoritas Meteorologi Nasional musim panas ini.

Seorang pejabat dari Pusat Meteorologi Nasional (NMC) kepada Global Times mengungkapkan keprihatinan, atas kekeringan parah di Tiongkok Utara, yang berpotensi menyebabkan krisis pasokan listrik.

Pada hari Kamis, otoritas meteorologi Beijing memperpanjang peringatan merah untuk suhu tinggi. Suhu di sebagian besar kota diperkirakan akan naik di atas 40 derajat Celsius.

Sementara itu, upaya penyelamatan dan penanganan banjir masih berlangsung di Wanzhou, Kotamadya Chongqing, Tiongkok Barat Daya, setelah hujan lebat menyebabkan 17 kematian, dan dua orang dilaporkan hilang pada Kamis.

Otoritas Wanzhou menyatakan curah hujan maksimum mencapai 261,2 milimeter.

Tiongkok telah menganggarkan 320 juta yuan dari dana bantuan bencana alam pusat, untuk mendukung pekerjaan bantuan bencana banjir dan geologis, termasuk di wilayah Chongqing dan Sichuan.

Dai Kan, wakil ketua NMC menyebutkan, bahwa otoritas sedang memantau dengan cermat cuaca ekstrem di seluruh negeri. Dia menekankan, selain memantau, otoritas lokal juga perlu meningkatkan kapasitas prakiraan mereka. Dai juga menyatakan keprihatinan tentang kekeringan di Tiongkok Utara, yang berpotensi menyebabkan kekurangan listrik.

Tiongkok pada hari Jumat mengeluarkan peringatan merah suhu tinggi untuk 108 kota, dimana 71 di antaranya berada di provinsi Hebei, Tiongkok Utara.

Departemen sumber daya air provinsi Hebei pada hari Rabu melaporkan, bahwa banyak bagian dari provinsi tersebut mengalami berbagai tingkat kekeringan, dan berdampak pada 750.000 hektar tanaman ladang.

Laporan media menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan di Hebei tahun ini hanya 123,3 milimeter, 13 persen lebih sedikit dari biasanya.  (Global Times)