BEIJING, Radio Bharata Online - Badan kesehatan Tertinggi Tiongkok berencana untuk meluncurkan suntikan bosster kedua pada hari Rabu (14/12). Mereka yang berasal dari kelompok berisiko tinggi, yakni lansia dan orang dengan penyakit bawaan, serta sistem kekebalan tubuh lemah yang telah menerima booster pertama lebih dari enam bulan lalu, akan diprioritaskan menerima vaksin booster kedua.
Mekanisme Pencegahan dan Pengendalian Bersama Dewan Negara, dalam sebuah pengumuman pada hari Rabu menyatakan, semua vaksin yang telah disetujui untuk penggunaan darurat, dapat digunakan sebagai suntikan penguat kedua. Adapun suntikan yang menggunakan teknologi berbeda harus diprioritaskan.
Suntikan yang mengandung virus Omicron, atau memberikan efek kekebalan silang terhadap virus Omicron, dapat diprioritaskan melalui mekanisme sebagai suntikan penguat dosis kedua.
Sejauh ini Tiongkok dilaporkan telah menyetujui 13 vaksin COVID-19 untuk penggunaan darurat. Dalam 25 jam, dari tanggal 4 hingga 5 Desember, empat vaksin COVID-19 baru dilaporkan telah disetujui untuk penggunaan darurat di daratan Tiongkok, termasuk tiga vaksin berbasis protein rekombinan, dan vaksin vektor virus influenza semprotan hidung.
Persetujuan cepat, datang beberapa hari sebelum Tiongkok mengoptimalkan respons COVID-nya, dengan merilis 10 langkah baru pada 7 Desember, termasuk mengizinkan kasus tanpa gejala dan pasien COVID-19 ringan, dan mereka yang memenuhi persyaratan tertentu untuk dikarantina di rumah. Ini dilakukan untuk mendukung dimulainya kembali kehidupan normal dan aktivitas ekonomi, sambil meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan ekonomi.
Seiring dengan penyesuaian langkah-langkah pencegahan epidemi dan dimulainya kembali kehidupan normal, kesiapan masyarakat Tiongkok untuk mendapatkan vaksinasi juga meningkat.
Menurut laporan media, dari 2 hingga 6 Desember, sekitar 896.000 suntikan vaksin COVID-19 diberikan di seluruh daratan Tiongkok. Dari 7 hingga 11 Desember, empat hari pertama setelah 10 tindakan dirilis, jumlahnya hampir empat kali lipat menjadi 3,59 juta suntikan.
Mengingat langkah-langkah pencegahan epidemi sebelumnya yang sangat ketat, banyak penduduk tidak menganggap perlu untuk mendapatkan vaksinasi.
Mengikuti penyesuaian terbaru, dan tanggung jawab untuk melindungi diri sendiri, kini telah menjadi pilihan individu. Dan atas dasar ini pula, tidak mengherankan bahwa lebih banyak orang bersedia divaksinasi. (Global Times)