BEIJING, Radio Bharata Online - Dipimpin oleh kapal perusak besar kelas 10.000 ton, sekelompok kapal perang Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), dilaporkan berlayar di luar rantai pulau pertama pada hari Rabu (14/12), melalui dua selat penting yang strategis di dekat Jepang.
Menurut seorang ahli latihan rutin pada hari Kamis, ini merupakan isyarat, di tengah gerakan militeristik Jepang baru-baru ini, termasuk pembaruan strategi keamanan nasionalnya, dengan meningkatkan pengeluaran militer dan menyebut Tiongkok sebagai "tantangan strategis".
Staf Gabungan Kementerian Pertahanan Jepang dalam dua siaran pers pada hari Rabu mengatakan, Pasukan Bela Diri Maritim Jepang menyaksikan armada Angkatan Laut PLA, yang terdiri dari kapal perusak besar Tipe 055 Lhasa, kapal perusak Tipe 052D Kaifeng dan kapal pengisi ulang Tipe 903A Taihu, berlayar dari Laut Tiongkok Timur melalui Selat Osumi ke Pasifik Barat pada hari Selasa hingga Rabu. Dan kapal pengintai elektronik Angkatan Laut PLA dengan nomor lambung 796, berlayar dari Laut Tiongkok Timur, melalui Selat Miyako ke Pasifik Barat dari Senin hingga Rabu.
Ini adalah kedua kalinya Lhasa melakukan pelayaran ke perairan jauh tahun ini, dengan yang pertama pada bulan Juni, ketika memimpin armada dengan konfigurasi serupa ke Laut Jepang, dan kemudian berlayar melingkari Jepang sebelum kembali.
Seorang ahli militer anonimus yang berbasis di Beijing mengatakan kepada Global Times pada hari Kamis, bahwa pelayaran terbaru, kemungkinan merupakan latihan reguler laut jauh, yang dilakukan sesuai dengan jadwal rutin, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan operasional kapal di laut jauh. Itu juga terjadi pada saat Jepang baru-baru ini memperbarui strategi keamanan nasionalnya, yang berencana untuk meningkatkan pengeluaran militernya, dan menyebut Tiongkok sebagai "tantangan strategis".
Jepang juga berencana untuk membeli rudal jelajah Tomahawk dari AS, yang diyakini para ahli adalah jenis senjata agresif yang dapat digunakan dalam serangan pertama. Rencana ini bertentangan dengan konstitusi pasifik Jepang, yang ditetapkan setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.
Itu juga terjadi setelah seorang pejabat senior Partai Demokrat Liberal yang berkuasa di Jepang, baru-baru ini juga mengunjungi pulau Taiwan dan membuat pernyataan tidak bertanggung jawab di Tiongkok.
Sementara pelatihan laut jauh kapal perang PLA, hanya bersifat rutin, dan tidak ditujukan untuk pihak ketiga mana pun. Itu akan menunjukkan kemampuan PLA dalam menjaga kedaulatan nasional, integritas wilayah, dan kepentingan pembangunan Tiongkok, serta mempertahankan tatanan internasional pasca-Perang Dunia II.(Global Times)