JAKARTA, Radio Bharata Online – Tiga tahun setelah virus corona muncul di Tiongkok tengah, beberapa warga baru-baru ini melancarkan protes publik yang jarang terjadi terhadap kebijakan nol-COVID, yang menuntut penguncian yang mengganggu secara ekonomi dan karantina wajib, pada fasilitas pemerintah.
Perubahan kebijakan Beijing yang mendadak pada hari Rabu, yang disemangati oleh beberapa orang, juga memicu kekhawatiran, di mana orang-orang diajari untuk takut terhadap penyakit tersebut.
Pelonggaran pengujian PCR wajib terhadap 1,4 miliar warga Tiongkok, telah melemahkan kemampuan otoritas kesehatan untuk mendeteksi kasus dengan cepat, dan mengukur bagaimana infeksi menyebar, mengganggu masyarakat dan ekonomi.
Sejak pelonggaran pembatasan, pihak berwenang belum memperkirakan berapa banyak orang yang akan sakit parah atau meninggal.
Pada bulan Oktober, Tiongkok memperkirakan setidaknya ada 100 kematian untuk setiap 100.000 infeksi.
Baoding, kota bagi 9,2 juta orang, dengan cepat menarik perhatian di Weibo, dengan postingan dari orang-orang penyintas dan penderita COVID, yang meminta tambahan pasokan medis, karena infeksi meningkat.
Dalam beberapa kunjungan, Reuters menemukan beberapa stok apotek telah diisi ulang dengan obat pereda flu seperti Ibuprofen. Tetapi obat tradisional Tiongkok yang populer Lianhua Qingwen, yang digunakan untuk gejala seperti demam dan batuk, dan alat tes antigen tetap sulit ditemukan.
Baoding tidak sendirian. Apotek dalam jaringan di seluruh Tiongkok kehabisan obat dan alat tes, mendorong pemerintah untuk menindak pihak-pihak yang melakukan penimbunan.
Pejabat mendesak rumah tangga untuk melaporkan gejala serius, dan menggunakan kit antigen yang dikelola sendiri. Tapi kit itu masih sulit didapat, sehingga meningkatkan risiko sakit parah.
Ben Cowling, seorang ahli epidemiologi di Universitas Hong Kong memprediksi akan ada peningkatan jumlah infeksi dalam beberapa minggu mendatang. Ben mengingatkan, infeksi parah juga akan meningkat.
Seorang Pejabat Kesehatan baru-baru ini mengatakan, Tiongkok memiliki 138.100 tempat tidur rumah sakit untuk perawatan kritis. Dan saat semakin banyak pasien COVID yang pulih di rumah, kota Baoding dilanda krisis pasokan pemanas untuk musim dingin, yang menambah risiko penyakit semakin serius.
Baoding Daily yang dikelola pemerintah menyebutkan, alat pemanas tidak mencukupi karena pasokan batu bara yang tidak stabil, yang disebabkan oleh COVID.
Seorang warga Baoding bernama Wang, 20 tahun mengatakan, suhu di rumahnya hanya 18 derajat Celcius, sementara dua anggota keluarganya mengidap COVID.
Pejabat kesehatan mengakui, risiko penyakit parah bagi mereka yang berusia di atas 65 tahun adalah lima kali lipat dari orang yang lebih muda. Bahkan risiko bagi orang di atas 75 tahun bisa menjadi tujuh kali lebih berpeluang terinfeksi.
Namun himbauan kepada para lansia untuk lebih melindungi diri mereka, tampaknya telah direduksi oleh pesan, bahwa varian Omicron tidak mematikan.
Tiongkok telah melaporkan tidak ada kematian sejak melonggarkan pembatasan COVID, dengan kematian hingga saat ini sekitar 5.200. (Reuters)