Beijing, Radio Bharata Online - Menurut sejarawan dari Akademi Sejarah Tiongkok, yang dikunjungi Presiden Tiongkok, Xi Jinping, minggu lalu, konsep perdamaian dan inklusivitas telah berakar dalam pada fondasi budaya Tiongkok dan sangat penting untuk memahami peradaban Tiongkok.

Akademi tersebut, yang merupakan anak perusahaan dari Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, berfokus pada penelitian dan studi sejarah. Tugas utamanya meliputi mengatur dan membimbing upaya negara dalam penelitian sejarah, dan mengimplementasikan proyek akademik nasional utama dalam studi sejarah.

Pada Jum'at (2/6) sore, Xi mengunjungi akademi tersebut dan melakukan tur pameran di Museum Arkeologi Tiongkok, termasuk pameran asal-usul peradaban. Ia  menyoroti peran integral arkeologi dalam memperdalam pemahaman tentang budaya Tiongkok yang kaya dan mendalam. Dia menekankan pentingnya melakukan penelitian dan memberikan interpretasi tentang asal-usul peradaban Tiongkok.

Li Guoqiang, Wakil Direktur Akademi Sejarah Tiongkok, mengatakan dari perspektif sejarah, perdamaian dan inklusivitas merupakan bagian integral dari peradaban Tiongkok.

"Mengejar perdamaian dan keharmonisan adalah dasar dari semangat Tiongkok. Itu ada dalam gen peradaban Tiongkok. Dalam sejarah 5000 tahun kita, dunia ideal kita adalah satu kesatuan yang besar. Budaya perdamaian dan persatuan mencerminkan pandangan orang Tiongkok dunia," kata Li.

"Dengan nilai-nilai budaya seperti itu, kami tidak melibatkan diri dalam hegemoni, juga tidak menjajah atau menduduki orang lain. Kami tidak memiliki perilaku atau pola pikir seperti itu. Sebaliknya, kami tetap terbuka dan merangkul budaya asing," imbuhnya.

Pada pertemuan tentang warisan dan pengembangan budaya pada hari Jum'at (2/6), setelah kunjungannya ke institusi tersebut, Xi mengatakan bahwa inklusivitas dan sifat damai peradaban Tiongkok berarti bahwa Tiongkok akan mencari kerja sama daripada konfrontasi ketika berhadapan dengan budaya asing.

"Kelangsungan peradaban Tionghoa dikembangkan di bawah tanah yang relatif bersatu dan didukung oleh pluralisme bangsa Tionghoa. Cara untuk mempertahankan kesinambungan tersebut adalah dengan memegang teguh tradisi dan membuka jalan baru. Selain itu, kami juga pandai merangkul budaya asing," papar Liu Jian, Wakil Kepala Institut Sejarah Dunia di Akademi Sejarah Tiongkok.

"Sekarang kami juga ingin menekankan perdamaian, konsep lama lainnya dalam sejarah peradaban Tiongkok. Ini adalah salah satu fondasi dan syarat bagi kelangsungan peradaban Tiongkok. Ini juga merupakan kontribusi Tiongkok bagi peradaban dunia," pungkasnya.