BEIJING, Radio Bharata Online - Meskipun Jepang mengklaim bahwa dua jet tempur F-15 yang tiba di Filipina adalah untuk pertukaran persahabatan, pakar militer Tiongkok berpendapat bahwa tindakan Jepang itu dapat menambah ketidakstabilan di Laut Tiongkok Selatan.

The Japan Times pada hari Rabu melaporkan, bahwa dua jet tempur F-15 yang dikirim oleh Pasukan Bela Diri Udara Jepang, tiba di Pangkalan Angkatan Udara Clark di Mabalacat, Filipina pada hari Selasa.  Ini adalah pertama kalinya sejak Perang Dunia II, Jepang mengirim jet tempur ke negara anggota ASEAN untuk "pertukaran persahabatan".

Sejarah mencatat, Filipina diduduki oleh Jepang selama Perang Dunia II, dan diperkirakan 1,1 juta warga sipil tewas.

Menurut kantor berita Kyodo Jepang, pesawat tempur Jepang lepas landas dari lapangan udara Mabalacat selama Perang Dunia II, dan sentimen anti-Jepang memuncak di kalangan masyarakat setempat.

Letnan Jenderal Connor Anthony Canlas, seorang komandan Angkatan Udara Filipina, mengatakan bulan lalu, bahwa Jepang sekarang adalah sekutu Filipina.

Sebuah laporan oleh Nikkei Asia pada hari Rabu menyebutkan, Jepang dan Filipina telah memperdalam kerja sama pertahanan.  Kedua belah pihak mengadakan pembicaraan "2 plus 2" pertamanya, antara kepala diplomatik dan pertahanan pada bulan April.  Laporan itu juga menyebutkan, Jepang mengekspor empat unit sistem radar pertahanan udara, yang mampu mendeteksi jet tempur dan rudal yang masuk.  Jepang juga telah memindahkan dua kapal patroli ke Filipina. Ini adalah pertama kalinya pemerintah Jepang mengekspor alutsista, sejak mengubah embargo senjatanya pada tahun 2014.

Song Zhongping, seorang pakar militer Tiongkok dan komentator TV, kepada Global Times pada hari Rabu mengatakan, penerbangan jet tempur F-15 Jepang ke Filipina, ditujukan untuk memperkuat kerja sama militer kedua negara, agar Jepang dapat memperluas kehadiran militernya di Laut Tiongkok Selatan.

Tetapi Jepang secara bertahap menyerahkan pensiunan jet tempur F-15 ke Filipina.

Wei Dongxu, pakar militer yang berbasis di Beijing, kepada Global Times mengatakan, Jepang sekarang sangat ingin ekspansi ke luar negeri. Angkatan Udara Bela Diri Jepang berusaha menemukan stasiun transit dan pijakan luar negeri, untuk mendukung kehadiran militernya di wilayah yang jauh. Menurut Wei, Pasukan Bela Diri Udara, maritim, dan darat, akan melakukan segala cara untuk meningkatkan kehadiran mereka di masa depan.

Wei juga menilai, dari situasi saat ini, Filipina tidak mengizinkan Pasukan Bela Diri Jepang untuk tinggal secara permanen. Infrastruktur Pangkalan Angkatan Udara Clark sudah tua, dan tidak memiliki kemampuan untuk memberikan dukungan logistik untuk sejumlah besar jet tempur canggih.

Wei menjelaskan bahwa AS memainkan peran besar dalam kerja sama pertahanan antara Jepang dan Filipina, dan berharap dapat menyatukan sekutunya di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Jepang dan Australia, untuk operasi militer bersama. AS juga berharap Jepang dapat menemukan pijakan di sekitar Laut Tiongkok Selatan, untuk beristirahat dan memasok, sehingga dapat lebih membantu militer AS untuk melakukan berbagai operasi militer. (Global Time)

 

Oleh : Guo Yuandan

Diterbitkan: 08 Des 2022 00:19

Diperbarui: 08 Des 2022 00:15