Menanggapi perkataan seputar Tiongkok yang dikeluarkan panel Afrika Komisi Hubungan Luar Negeri Dewan Perwakilan Amerika Serikat, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning Jumat hari ini (5/5) menyatakan, Tiongkok mempertahankan prinsip transparan dan terbuka sejak lama, mengadakan kerja sama pragmatis berdasarkan kebutuhan pihak Afrika, terus merintis bidang baru dan menggali daya penggerak baru, sehingga hasil kerja sama sudah tercapai di setiap sudut Afrika.
PLTA Ngarai Kafue Zambia yang dibangun Tiongkok mengurangi emisi gas karbon sebesar 663,5 ribu ton secara tahunan dan menghasilkan pendapatan sebesar 1 juta dolar US secara harian melalui pemungutan tagihan listrik; KA Mombassa-Nairobi di Kenya secara akumulatif menciptakan kesempatan kerja sebanyak 46 ribu lowongan, lokalisasi karyawan mencapai 80% ke atas, dan sekitar 7 ribu penumpang dan 18 ribu ton komoditi diangkut ke destinasi setiap hari. Sementara itu pemerintah Tiongkok pun mendukung perusahaan Tiongkok yang ada di Afrika dengan aktif memikul kewajiban sosial.
Mao Ning menunjukkan bahwa, lembaga moneter internasional dan para kreditor komersial adalah pihak pemegang utang terbesar bagi Afrika. Faktanya ialah kebijakan kenaikan suku bunga secara drastis oleh pihak AS justru meningkatkan biaya pendanaan dan pembayaran utang bagi negara-negara Afrika, dan dianggap sebagai penyebab penting masalah utang di negara-negara Afrika.
Mao Ning menyatakan, dalam perihal kerja sama Tiongkok dan Afrika, AS hendaknya melepaskan diri dari psikologi “sour grapes”, dan hendaknya bersikap lebih terbuka dan inklusif. Semua kerja sama, asal benar-benar menguntungkan bagi rakyat Afrika, pasti akan menang tanpa persaingan.
Pewarta : CRI