BEIJING, Radio Bharata Online - Sejak berakhirnya era Perang Dingin, dari sepanjang tahun 1991 hingga 2022, Amerika Serikat telah melancarkan 251 operasi militer ke berbagai negara. Angka ini lebih dari setengah dari total intervensi militer yang dilakukan AS dari 1798 hingga 2022.

Data tersebut diungkap jurnalis independen Amerika, Ben Norton mengutip data dari US Congressional Research Service.

Terkait hal tersebut, juru bicara merangkap Direktur Jenderal Departemen Informasi Kementerian Luar Negeri Tiongkok (MFA), Wang Wenbin mengkritik "kebiasaan perang" dari AS. Dirinya juga meminta AS supaya tidak terlalu sering ikut campur urusan negara lain.

"Kami telah mencatat laporan yang relevan. AS telah berulang kali mengklaim bahwa mereka menghormati dan membela 'tatanan internasional berbasis aturan'. Namun, statistik yang dirilis oleh Kongres AS telah menunjukkan kepada dunia sifat suka berperang dan hegemonik dari aturan AS," kata Wang dalam konferensi pers Selasa (20/9/2022).

Wang menambahkan, setelah berakhirnya Perang Dingin, dunia berharap AS bisa mengurangi operasi militernya di luar negeri. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

"Setelah Perang Dingin, AS melancarkan operasi militer tujuh kali lebih sering daripada sebelum Perang Dingin. Semua angka ini adalah perkiraan konservatif, karena tidak termasuk hal-hal seperti 'operasi khusus' AS dan tindakan rahasia," ucap Wang.

Dalam laporan Norton juga ditunjukkan daftar negara yang ditargetkan oleh militer AS. Sebagian besar merupakan negara-negara di Afrika, termasuk hampir setiap daerah di Amerika Latin dan Karibia.

Wang meminta AS menghentikan "kebiasaan" buruknya dan berhenti menjadi pembuat perang No.1 di dunia.

"Alih-alih mengklaim sebagai pembela aturan dan ketertiban dengan menyerang, menuduh dan menodai orang lain, AS perlu dengan sungguh-sungguh merenungkan perilakunya yang suka berperang dan campur tangan terus-menerus dalam urusan internal orang lain," ungkapnya.