BEIJING, Radio Bharata Online - Tiongkok telah meningkatkan upaya berkelanjutan untuk melaksanakan misi historis jangka panjang, dari Program Hutan Shelterbelt Tiga Utara dengan baik, dalam upaya untuk melawan badai pasir dan erosi tanah di wilayah Tiongkok utara.

Menurut data tahun2018, selama empat dekade terakhir, program ini telah meningkatkan area hutan seluas 30,14 juta hektar.

"Tiga Utara" Tiongkok, yaitu wilayah barat laut, utara, dan timur laut, merupakan kawasan gurun pasir, termasuk gurun Gobi, dan terus mengalami perluasan. Tiongkok meluncurkan proyek "Three-North Shelterbelt Forest Program" pada tahun 1978.

Pada hari Selasa (06/06), Presiden Xi Jinping mengapresiasi upaya memerangi penggurunan di sepanjang perbatasan utara.  Presiden Xi mengakui, bahwa penggurunan yang meluas dan sulit untuk dikelola, secara keseluruhan merupakan ciri khas dari situasi penggurunan di Tiongkok.

Menurut Xi, pembangunan proyek-proyek ekologi besar seperti Program Hutan Shelterbelt tiga Utara, hanya dapat dilakukan di bawah kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok (CPC).

Presiden Xi mengatakan hal itu, saat mengunjungi sebuah peternakan hutan di Kota Bayannur di Daerah Otonomi Mongolia Dalam, Tiongkok utara.

Xi menekankan target dasar untuk mengkonsolidasikan "penghalang keamanan ekologis" di utara, sambil menyoroti target baru untuk menjadikan proyek ini sebagai "tembok hijau di perbatasan Utara yang tidak dapat dihancurkan."

Sejauh ini, Tiongkok telah memimpin kampanye global, untuk menghijaukan planet bumi, dengan pertumbuhan tutupan hutan tertinggi, dan area hutan buatan terbesar dunia.

Temuan tahun 2019 yang dipublikasikan di Nature Sustainability, menunjukkan bahwa berdasarkan data dari satelit NASA, setidaknya 25 persen dari perluasan dedaunan sejak awal tahun 2000-an, secara global berasal dari Tiongkok. (CGTN)